Kontribusi FLPP BTN Hanya 15 Persen

Gina Nur Maftuhah - Okezone
Minggu, 5 Februari 2012 15:21 wib
Logo BTN
Logo BTN
JAKARTA  - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mengaku penyaluran porsi Fasilitas Likuiditas Pemilikan Perumahan (FLPP) terhadap pertumbuhan kreditnya hanya sekira 15 persen. Oleh karena itu, jika perseroan kemudian memutuskan untuk membatasi penyaluran FLPP, pihaknya telah memiliki strategi lain untuk menggenjot kreditnya.

"Target tahun ini, penyaluran kredit baru 36 persen. Tahun ini, kalaupun akan ikut program FLPP sudah ada hambatan karena pasti ada on-offnya. Makanya kita butuh kepastian. Kita akan lihat bisnis mana yang akan dikembangkan. FLPP tidak banyak sekira 15 persen (dari target pertumbuhan kredit baru," ujar Direktur Utama BTN Iqbal Latanro ditemui di sela-sela Ulang Tahun BTN ke-62 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Minggu (5/2/2012)

Beberapa waktu yang lalu, Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) mengumpulkan direksi-direksi bank BUMN untuk menurunkan tingakt suku bunga FLPP agar semakin terjangkau oleh masyarakat. Pemerintah mengharapkan bunga FLPP turun di angka 6-7 persen dari angkanya sekarang sekira 8,5 persen. BTN, sebagai bank yang khusus membiayai kredit kepemilikan properti, memiliki porsi penyaluran FLPP terbesar mencapai 99,4 persen. BTN sendiri mampu memberikan pembiayaan FLPP sebesar Rp 500 juta dengan memberikan bunga flat sebesar 8,5 persen. Skema FLPP ini, dibantu subsidi bunga dari pemerintah sebesar 60 persen dan sisanya BTN.

Namun, seiring dengan tingkat suku bunga acuan (BI Rate), pemerintah menghendaki bunga FLPP turun di angka 6-7 persen dengan subsidi bunga pemerintah dan BTN dipukul rata (50:50). Di titik inilah pemerintah dan perbankan belum menemukan kata sepakat. BTN sendiri mengaku suku bunga FLPP di angka 7,75 persen sudah pas dan tak bisa ditawar lagi. Bila tidak, maka bank bisa gulung tikar.

"Kita mau ikut FLPP tapi kita tidak mau menanggung rugi karena bunga yang terlalu rendah (FLPP)," lanjut dia.

Dengan harga rumah yang masuk dalam FLPP yang sekira Rp70 juta per unit di DKI Jakarta, lanjut Iqbal, FLPP juga sudah banyak ditinggalkan orang. Oleh karenanya, jika perolehan kreditnya dari FLPP menurun tahun ini, perseroannya telah melakukan langkah antisipatif.

"FLPP banyak di pinggiran. Harga jual Rp70juta di DKI Jakarta itu sedikit. Jadi kita punya langkah antisipatif. Kita akan naikan (pembiayaan) ke menengah atas, kita tawarkan program promosi yang di 9,75 persen (suku bunga) selama dua tahun. Kalo bunga naik, kita penyesuaian, kalo enggak ya enggak ada penyesuaian," jelas dia.

Oleh karena itu, perseroan kemudian memutuskan untuk sementara menghentikan sementara  penyaluran FLPPnya dan memilih menunggu keputusan pemerintah karena keterbatasannya menanggung kerugian. (gna) (rhs)
TWITTER »
twit