JAKARTA - Pemerintah akan mendahulukan penyediaan Compressed Natural Gas (CNG) untuk daerah yang menghasilkan gas konvensional sehingga mendapatkan gas yang lebih murah.
Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Evita Legowo yang ditemui dalam acara gas unconventional di Hotel Four Seasons, Jakarta, Senin (6/2/2012).
"Saya sampaikan juga kemarin, kita hanya bisa menyediakan CNG di daerah yang punya sumber gas convetional, dengan adanya shale gas, karena tempatnya tidak harus sama, mungkin tempat yang tidak ada conventional gas jadi ada unconventional gas sehingga bisa dapat gas lebih murah. Kalau ada gas dari sumur bisa untuk gas rumah tangga atau transportasi," ujar Evita.
Dirinya mencontohkan di daerah Tarakan, Kalimantan Timur sejak 1160 tahun yang lalu terdapat potensi gas bumi. Namun, masyarakat daerah tersebut tidak merasakan manfaatnya sampai saat ini.
"Itu cambuk untuk saya, jadi daerah-daerah yang punya gas harus didahulukan karena itu kalau conventional enggak mungkin, yang unconventional siapa tahu ada," tegasnya.
Menurutnya shale gas ini akan memenuhi kebutuhan gas di seluruh Indonesia yang dipakai untuk kegiatan industri, transportasi, rumah tangga, dan juga untuk pembangkit listrik.
"Jadi enggak bisa dikaitkan langsung dengan subsidi BBM. Itu lain urusannya," tegasnya.
Lebih lanjut Evita menambahkan shale gas ini harus dipisahkan dengan minyak jadi tidak ada hubungannya gas dengan kebutuhan subsidi BBM yang ditetapkan pemerintah.
"Dilihat di crude oil-nya, tidak terkait dengan BBM, kalau mau coba dikait-kaitin, shale gas ini possibility untuk menyediakan gas untuk transportasi lebih luas," pungkasnya. (gna)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.