Ilustrasi. (Foto: Corbis)
PEKAN lalu perkembangan ekspor Desember 2011 yang dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) diulas di media dengan berbagai sudut pandang.
Satu media menanggapi kinerja ekspor Desember itu dengan nada pesimistis, yang menandaskan terjadi penurunan. Media yang lain memuat dalam headline dengan menyatakan,pencapaian ekspor pada 2011 tersebut merupakan suatu rekor baru bagi Indonesia. Pada akhirnya kedua pandangan seperti ini seperti pandangan gelas setengah penuh atau setengah kosong. Bagaimana saya menanggapi hal tersebut? Jika diingat kembali apa yang terjadi pada awal 2011, waktu itu pemerintah menargetkan pencapaian pertumbuhan ekspor berkisar 7–8,5 persen sebagaimana termuat dalam Rencana Kerja Pemerintah maupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah.
Ini berarti, target ekspor Indonesia pada 2011 semestinya berada di kisaran sekitar USD165 miliar sampai USD170 miliar, suatu jumlah yang dipandang cukup tinggi waktu itu. Adapun ekspor nonmigas ditargetkan sebesar USD139 miliar sampai USD146 miliar. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah akan melakukan dorongan pada 10 produk utama. Target itu disampaikan menteri perdagangan waktu itu, Mari Elka Pangestu, menanggapi rekor ekspor pada 2010 yang mencapai USD157,7 miliar atau meningkat 35 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang dilaporkan oleh BPS pada 1 Februari 2011.
Ekspor nonmigas pada 2010 tersebut dilaporkan telah mencapai USD129,7 miliar atau naik 33 persen. Dengan melihat catatan tersebut, pemerintah sebetulnya belumlah menetapkan target sebesar USD200 miliar. Saya bahkan mungkin salah satu pengamat pertama yang sempat berkomunikasi dengan menteri perdagangan pada April 2011 mengenai optimisme saya bahwa ekspor Indonesia akan mencapai USD200 miliar pada 2011. Pemerintah baru berani mematok target USD200 miliar tersebut pada sekitar September 2011 setelah melihat kinerja ekspor di semester I-2011 yang ternyata melampaui harapan.
Karena itu merupakan suatu hal yang sungguh patut disyukuri, ekspor 2011 akhirnya melampaui USD200 miliar dan bahkan mencapai USD203,6 miliar. Kalau melihat perjalanan prediksinya, pencapaian tersebut sungguh jauh melampaui prediksi pemerintah sebelumnya. Dengan pencapaian ekspor sebesar itu, telah terjadi pertumbuhan ekspor secara keseluruhan sebesar 29 persen, suatu tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi di tengah-tengah muramnya perekonomian global saat ini. Jika kita mengamati apa yang terjadi di negara- negara Barat, terutama kawasan Eropa, bisa dimaklumi seandainya ekspor kita hanya mencapai pertumbuhan di bawah 10 persen.
Bagaimanapun suasana muram di Eropa sudah berlangsung sepanjang 2011 karena meledaknya krisis Yunani sudah terjadi pada akhir 2010. Itulah sebabnya, perasaan bersyukur tersebut harus muncul di hati pada saat kita menanggapi kinerja ekspor yang bahkan merupakan rekor baru tersebut. Jika kita tilik lebih lanjut, penurunan nilai ekspor yang terjadi pada Desember dibandingkan November 2011 berjumlah sekitar USD38 juta, yaitu dari USD17,236 miliar pada November 2011 menjadi USD17,198 miliar pada Desember 2011.
Sementara itu, penurunan terbesar pada Desember tersebut dilaporkan terutama berasal dari penurunan ekspor minyak nabati (CPO) hampir sebesar USD500 juta sendiri.Ini berarti,sebagian besar produk lainnya tidaklah mengalami penurunan dibandingkan pada November 2011, bahkan mereka mengalami kenaikan lebih dari USD450 juta. Saya tidak pernah merasa berkecil hati dengan kinerja ekspor minyak nabati (CPO).Turun-naik ekspor komoditi tersebut lebih disebabkan oleh pergerakan musim maupun sebab yang lain yang berkaitan dengan pajak ekspor yang cukup tinggi.
Yang jelas harga CPO berada pada level tinggi, yaitu di atas USD1.000 setiap ton, sementara biaya produksi di Indonesia (di luar biaya bunga) masih berada di sekitar USD300 per ton.Dengan mulai panennya kebun-kebun baru, total produksi sawit sebetulnya mengalami kenaikan menjadi sekitar 23,5 juta ton, sekitar 18 juta ton diekspor. Jumlah ini akan mengalami kenaikan lagi pada 2012 ini sehingga akan mencapai sekitar 25 juta ton, sementara harganya masih kuat. Suatu hal yang patut disyukuri pula yaitu telah terjadi pergeseran komponen ekspor secara sangat signifikan.
Sekitar 10 sampai 20 tahun lalu ekspor minyak dan gas bisa dikatakan mendominasi ekspor kita.Saya masih ingat pada saat saya menjadi staf menteri perdagangan pada 1988,untuk pertama kalinya menteri perdagangan melaporkan ekspor nonmigas dalam satu bulan mencapai USD1 miliar. Itu adalah suatu prestasi besar yang dicapai pada saat itu. Pada 2011 ekspor minyak dan gas berjumlah USD41 miliar, ekspor gas justru mendominasi kelompok ekspor migas tersebut.Sementara itu, ekspor nonmigas telah mencapai USD162 miliar, sekitar empat kali lipat dari ekspor migas.
Kalau diukur setiap bulan, ekspor nonmigas setiap bulan bahkan telah mencapai lebih dari USD13,5 miliar,lebih dari 13 kali lipat dibanding kinerja ekspor nonmigas pada 1988. Sungguh suatu peningkatan yang sangat besar. Jika dibandingkan dengan ekspor batubara ditambah kelapa sawit saja, ekspor migas pada 2011 tersebut bahkan sudah mulai kalah dibandingkan dengan ekspor kedua komoditas tersebut.Sebentar lagi,ekspor kelapa sawit ditambah karet sudah juga akan melampaui ekspor minyak dan gas tersebut.
Jika ekspor kelapa sawit dan karet telah melampaui ekspor migas, paling tidak terdapat dua keuntungan besar yang terjadi. Yang pertama, kelapa sawit dan karet adalah komoditas yang selalu terbarukan (renewable). Dengan perkembangan teknologi, setiap terjadi penanaman baru,hasilnya bahkan jauh lebih tinggi. Di samping itu, berbeda dengan minyak dan gas yang diproduksi dalam enklaf yang tertutup dan hanya melibatkan sangat sedikit orang, produksi kelapa sawit dan karet melibatkan hampir 20 juta petani dan keluarganya.
Keadaan inilah yang memperkuat perekonomian akar rumput di daerah-daerah terutama di Sumatera dan Kalimantan. Pendapatan petani daerah tersebut yang mengalami peningkatan tajam akhirnya menjelma menjadi suatu permintaan yang besar pada mobil, sepeda motor, alat-alat rumah tangga, dan berbagai barang industri lainnya. Inilah sebabnya, peningkatan ekspor yang terjadi saat ini memiliki dampak multiplier pada perkembangan industri yang umumnya di Pulau Jawa. Untuk 2012 ini, kita tentu tidak bisa memiliki optimisme yang sama dengan dua tahun terakhir.
Kendati demikian, ekspor Indonesia tidaklah akan berada di bawah angka USD200 miliar sebagaimana yang telah tercapai pada 2011. Saya bahkan tidak akan terkejut jika ekspor Indonesia masih mampu membukukan hasil di atas USD225 miliar pada Tahun Naga Air ini.
CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO
Pengamat Ekonomi
(Koran SI/Koran SI/wdi)