Ilustrasi. (Foto: Corbis)
JAKARTA - Rencana perusahaan asal Singapura Yawadwipa Companies mengambil alih PT Bank Mutiara Tbk ternyata memiliki tingkat risiko politik.
"Ada tingkat risiko politis. Pengalaman kita, orang beli Bank Niaga, BCA tidak ada risiko. Ini kan bisnis, politik hanya ekses," jelas Ketua Umum Perbanas Sigit Pramono, usai Pembukaan BNI International Seminar Workshop, di Hotel Le Meridien, Jakarta, Selasa (7/2/2012).
Tapi, dia menggaribawashi ekses tersebut akan hilang jika pembeli eks Bank Century itu tidak bermasalah. "Selama pembeli benar dan jelas, saya kira ada. Asal transparan. Asal dilindungi hukum," imbuhnya.
Menurutnya, akuisisi adalah murni masalah bisnis. Mekanismenya pun pastinya akan menguntungkan pemerintah.
"Perbanas tidak terlalu persoalkan. Kita netral sifatnya, tidak punya kewenangan atur dan paksa. Kita hanya imbau rekomendasikan. Ini pertimbangan bisnis belaka, komersial saja. Penawar tertinggi akan dapat," tukas dia.
Yawadwipa telah mengumumkan berminat atas Bank Mutiara. Dia pun menyanggupi untuk mengakuisisi dengan harga pembelian yang tidak kurang dari penempatan modal sementara LPS 2008 pada Bank Mutiara, yang bernilai sekira Rp6,7 triliun, atau dengan tingkat suku bunga, sekira USD750 juta. (wdi)