Ilustrasi. Foto: Koran SI
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) kembali menambah deretan panjang pihak-pihak yang dilangkahi Yawadwipa untuk memuluskan niatnya mengakuisisi eks Bank century. Bank Sentral mengaku tidak tahu dan tidak pernah mengenal siapa itu Yawadwipa.
"Belum pernah ke BI, enggak tahu," ungkap Deputi Gubernur Muliaman Hadad di JCC, Jakarta, Rabu (8/2/2012).
Menurut dia, pihaknya hanya akan menunggu proses yang akan disampaikan lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai pemilik 99 persen saham Bank Mutiara.
"BI lagi menunggu data dari LPS mengenai Bank Mutiara," lanjut dia.
Seperti diberitakan sebelumnya, Yawadwipa Companies, perusahaan asal Singapura, mengaku telah menyampaikan minat secara resmi kepada penasihat keuangan PT Bank Mutiara Tbk untuk mengakuisisi Bank tersebut dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Presiden Direktur Yawadwipa C Christopher Holm mengatakan, Yawadwipa siap mengakuisisi 100 persen saham Mutiara dengan harga aman yaitu sekira Rp6,7 triliun atau dengan tingkat suku bunga, yakni sekira USD750 juta.
Selain mengakuisisi penuh, perusahaan dikabarkan juga menyediakan penambahan modal langsung untuk meningkatkan rasio modal dan mempercepat pertumbuhan.
Berbagai pihak yang berkepentingan dalam rencana akuisisi Bank Mutiara oleh korporasi asal Singapura, Yawadwipa dinilai mengalami keanehan. Pasalnya, pemilik 99 persen saham Bank Mutiara mengaku belum pernah bertemu dengannya.
Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan dan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa juga mengaku belum pernah bertemu dengan Yawadwipa. (gna)
(rhs)