JAKARTA - Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) mengatakan di 2011 gangguan operasi meningkat hingga 1.234 gangguan dibanding 2010 sebesar 756 gangguan.
Hal ini disampaikan Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas BP Migas Gde Pradnyana yang ditemui di Kantor BP Migas, Gedung Wisma Mulya, Jakarta, Kamis (9/2/2012).
"Total gangguan yang terjadi sepanjang 2011 mencapai 1.234 gangguan dibandingkan 2010 yang hanya sebanyak 756 gangguan," ujar Gde.
Menurutnya, gangguan-gangguan itu terdiri dari perizinan, tumpang tindih, internal KKKS, ketidaksertaan alat dan proses pengadaan.
"Wilayah eksplorasi ada 112 perusahaan dan 67 persen belum bisa memenuhi komitmen, 51 persen penyebabnya di luar kendali kita, misalnya masalah tumpang tindih lahan, gangguan," tegasnya.
Dirinya juga mencanangkan dua kegiatan untuk meningkatkan eksplorasi dan EOR. "Anggarannya dari yang tersedia, baru 50 persen yang terealisasi sekira USD2,57 miliar," ungkap Gde.
Lebih lanjut dirinya mencontohkan gangguan-gangguan yang saat ini terjadi di berbagai daerah penghasil minyak dan gas bumi.
"Seperti Bupati Musi Rawas menyetop produksi Sele Raya kita kehilangan produksi sampai 1.300 bph dan belum kembali. Bojonegoro sampai sekarang IMB belum keluar sehingga pembangunan fisik full facility proyek Banyu Urip 165 ribu bph belum bisa dimulai. Padahal ground breaking sudah Desember lalu," pungkasnya.
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.