Ilustrasi. Foto: Corbis
JAKARTA - Lembaga pemeringkat Moody's menilai jika BI rate tidak melulu menjadi patokan utama bagi industri perbankan saat ini.
"Sinyal BI rate berkurang bagi perbankan, mereka tidak mengandalkan BI rate, namun lebih mengandalkan obligasi," kata Assistant Vice President-Analyst Sovereign Risk Group Moody'sChristian de Guzman, saat konferensi pers di Hyatt Hotel, Jakarta, Kamis (9/2/2012).
Menurutnya, Bank Indonesia (BI) sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan yang utamanyadikarenakan krisis global saat ini. Krisis tersebut pada akhirnya membuat lambat pertumbuhan ekonomi, terutama adanya tekanan dari Eropa.
"Pada dasarnya dengan menurunkan tarif dan mengurangi kebijakan moneter, kita berfikir itu hal yang cukup baik, menguatkan. Tapi itu bukan berarti sebuah kekebalan yang baik pula," akunya.
Sebagaimana diketahui, Rapat Dewan Gubernur BI menetapkan suku bunga acuan alias BI Rate diturunkan 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen.
Keputusan ini diambil sebagai langkah lanjutan untuk memberikan dorongan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah menurunnya kinerja ekonomi global, dengan tetap mengutamakan pencapaian sasaran inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah.
Dengan keputusan BI Rate ini, koridor bawah dan atas suku bunga operasi moneter Bank Indonesia masing-masing menjadi 3,75 persen untuk fasilitas simpanan (deposit facility rate) dan 6,75 persen untuk fasilitas pinjaman (lending facility rate). (ade)