JAKARTA - Dengan turunnya suku bunga acuan bank sentral (BI rate) diperkirakan dapat mengangkat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun, pada kenyataannya aksi profit taking membuat rupiah kembali melemah.
Menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI) rupiah diperdagangkan di kisaran Rp8.993 per USD dengan rata-rata perdagangan Rp8.948-Rp9.038 per USD. Sedangkan menurut yahoofinance, rupiah di kisaran Rp8.968 per USD dengan range perdagangan Rp9.020-Rp9.055 per USD.
Analis Treasury Telkom Sigma Rahadyo Anggoro mengungkapkan, pascaturunnya BI rate 25 basis poin menjadi 5,75 persen, rupiah diprediksi akan kembali menguat pada perdagangan akhir pekan ini.
Dia mengaku jika hal ini cukup mengagetkan pasar. Lantaran, analis memprediksi BI rate akan tetap di level enam persen. Kondisi inilah yang memicu menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.
"Penurunan ini dinilai masuk akal. Lantaran pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi berada di level 6,5 persen, dan hingga akhir tahun bisa capai 6,3 persen. Sementara itu inflasi diprediksi 0,76 persen, dan year on year (yoy) 3,4 persen," ujarnya kepada okezone, Jumat (10/2/2012).
Dengan turunnya BI rate diperkirakan investor asing akan semakin tertarik untuk investasi di Indonesia. Surat Utang Negara (SUN) serta obligasi juga akan menarik, imbasnya rupiah akan menguat.
Sementara, analis Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih mengatakan, Pasar global ditutup menguat. Sentimen positif ini kemungkinan menjalar kepasar Asia hari ini. "Rupiah juga berpotensi menguat hari ini," jelas dia. (mrt)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.