MAKASAR - Sektor pariwisata memiliki kontribusi terhadap pemasukan devisa Indonesia. Pada tahun 2010 lalu, sektor ini menyumbang sekira Rp7.603,45 triliun.
Berdasarkan data pemeringkatan daya saing kepariwisataan dunia versi World Economic Forum (WEF) seperti dikutip Okezone, Sabtu (11/2/2012), kontribusi sektor pariwisata terhadap devisa Indonesia selama tiga tahun (2008-2010) berkisar pada urutan keempat dan kelima, yakni (peringkat lima) sebesar Rp7.348 triliun pada 2008 kemudian menurun jadi Rp6.298,02 triliun (peringkat empat) , dan terakhir naik mencapai (peringkat lima) Rp7.603,45 triliun pada 2010.
Selain itu, pemasukan devisa yang dihasilkan oleh pengeluaran wisman selama berkunjung ke Indonesia naik tajam dari USD5.749 juta pada 2000 menjadi USD7.603 juta pada 2010. Angka tertinggi dicapai pada 2010 dan terendah sebesar USD4.037 juta pada 2003.
Devisa dari 20 negara asal wisman yang datang ke Indonesia, menempatkan Australia di peringkat pertama dengan USD1.172 juta, diikuti Singapura sebesar USD928 juta, dan Malaysia dengan USD864 juta. Peringkat terendah ditempati wisman asal Swiss dengan USD55 juta.
Lalu, pada 2010 rekor devisa terbanyak dikumpulkan oleh sektor minyak dan gas bumi dengan capaian Rp28.039,60 triliun. Berikutnya, di peringkat kedua diduduki oleh sektor minyak kelapa sawit yang menghasilkan devisa sebesar Rp13.468,97 triliun selanjutnya ada sektor batubara Rp11.976,3 triliun, dan karet olahan sebesar Rp9.314,97 triliun.
Di sisi lain, selama 2008 hingga 2009, pola pengeluaran wisman dan wisnus mengalami paradoks turun-naik dengan total capaian sebesar Rp400,9 triliun. Di satu sisi, pola pengeluaran wisman menurun dari Rp80,5 triliun (2008) menjadi Rp59,2 triliun (2009), maka pola pengeluaran wisnus melejit naik dari Rp123,2 triliun (2008) menjadi Rp138 triliun (2009).
Sekadar informasi, terdapat 10 pos pengeluaran dalam pola dimaksud, yakni produk pertanian, produk industri non-makanan, kesehatan dan kecantikan, suvenir, jasa pariwisata lainnya, jasa seni budaya, rekreasi, dan hiburan, biro perjalanan, operator, dan pramuwisata, angkutan domestik, restoran dan sejenisnya.
Pos pengeluaran terbesar ialah hotel dan akomodasi (HA), diikuti restoran dan sejenisnya (RS), dan suvenir (SV). Pada rentang 2008-2009, HA merekor penerimaan sebesar Rp67.335,93 triliun, RS membukukan Rp73.421,21 triliun, dan SV mendapat Rp28.736,43 triliun. (git)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.