Gubernur BI Darmin Nasution (tengah). (Foto: okezone)
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menilai, kenaikan laba perbankan yang tumbuh besar di 2011 lalu, bukan disebabkan karena industri tersebut menambah porsi kreditnya. Bank Sentral justru menilai kenaikan ini disebabkan karena bank terlalu khawatir sehingga menerapkan premi risiko kredit terlalu tinggi.
Hal ini disampaikan Gubernur BI Darmin Nasution usai menjadi pembicara di Seminar Indonesian Economic Policy in A Challenging Global Economy di Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis (23/2/2012).
"(Kenaikan laba perbankan) enggak semuanya datang dari laba, dalam proses pembukuan mereka, ada yang namanya premi risiko. Pada akhir tahun, ternyata Non Performing Loan (NPL) enggak meningkat sehingga premi risiko praktis enggak terpakai dan jadi laba," tukasnya.
Dalam menentukan suku bunga kredit, bank sangat memperhitungkan beberapa hal seperti cost of fund (biaya dana), overhead cost (biaya operasional, profit margin dan premi risiko.
Premi risiko ini adalah semacam perlindungan bagi bank jika ternyata kredit yang disalurkannya mengalami kemacetan. Namun ternyata, menurut Darmin, rasio kredit macet (NPL) bank sampai akhir tahun tidak naik.
Oleh karena itu, Darmin melihat bahwa kenaikan laba industri perbankan, belum dikarenakan kenaikan penyaluran kredit. Suku bunga kredit di perbankanpun tak juga turun mengikuti BI rate. "Itu menunjukkan upaya kita menurunkan efisiensi belum ditransmisikan seluruhnya terhadap nasabah peminjam, bunga kredit belum turun sama cepat dengan bunga depositonya," lanjut Darmin.
Namun, Darmin menyebut upaya mendorong efisiensi perbankan salah satunya dengan menurunkan tingkat suku bunga acuan (BI Rate) membutuhkan waktu yang panjang. "Ini proses masih berjalan. Kita sudah turunkan berkali-kali policy rate, tapi memang prosesnya enggak mudah, proses yang harus terus menerus, konsisten dan enggak bisa berubah begitu saja," tandas dia. (wdi)