NEW YORK - Minyak mentah Brent naik di atas USD125 per barel, mendekati level tertinggi dalam 10 bulan terakhir. Akibat sentimen dari memanasnya hubungan negara barat dengan Iran terkait pengayaan uranium oleh Iran.
Harga minyak juga naik terpicu kekhawatiran permintaan konsumen akan melambat sebagai implikasi dari melabatnya pertumbuhan ekonomi global, khususnya zona euro yang masih terpuruk dalam krisis utang dan adanya kabar resesi.
Sehari setelah mencapai rekor tinggi dalam, minyak mentah Brent melonjak USD1,85 dan menetap pada USD125,47 per barel setelah membukukan keuntungan lima hari secara beruntun. Minggu ini, minyak mentah Brent telah naik hingga 4,9 persen, persentase kenaikan terbesar sejak 6 Januari.
Kenaikan Brent, dipicu terutama oleh kekhawatiran atas pasokan Iran. Eropa sebagai pembeli minyak mentah Iran, telah memotong pembelian menjelang embargo Uni Eropa pada 1 Juli. Beberapa pelanggan terbesar Iran di Asia termasuk China juga mengurangi pembelian mereka.
"Kenaikan pada harga minyak mentah telah menimbulkan spekulasi apa yang juga terjadi pada tahun lalu, lonjakan harga energi dapat merusak pertumbuhan ekonomi riil, ketika momentum pemulihan ekonomi terjadi," kata kepala ekonom Capital Economics, Paul Ashworth, di Toronto seperti dilansir dari Reuters, Sabtu (25/2/2012).
Seiring dengan Brent, minyak mentah berjangka Amerika Serikat (AS), West Texas Intermediate, melanjutkan rally. Di New York Mercantile Exchange (NYMEX), minyak mentah untuk pengiriman April menetap di USD109,77 per barel, naik USD1,94, atau 1,8 persen, kenaikan tertinggi sejak 3 Mei, ketika harga mencapai di USD111,05. (
mrt) (
rhs)