>

Harga Perumahan Global Menurun, Asia pun Tak Berkutik

|

Nur Januarita Benu - Okezone

foto: property report

Harga Perumahan Global Menurun, Asia pun Tak Berkutik
JAKARTA - Pasar perumahan global terus menunjukkan penurunan, termasuk pula Asia di dalamnya. Sebaliknya, Amerika Serikat (AS) yang beberapa waktu belakangan terpuruk, mulai mencoba untuk pulih kembali.

Menurut hasil survei yang diperoleh Global Property Guide (GPG). Dari 35 negara yang disurvei pada kuartal keempat (Q4), hanya 13 negara yang harga perumahannya meningkat, sementara di 22 negara lainnya jatuh. Demikian seperti dilansir situs resminya, Senin (27/2/2012).
 
GPG juga melaporkan angka-angka pada kuartal empat 2011 agak mengkhawatirkan, dengan kenaikan harga per triwulan hanya terjadi di 10 negara sementara 25 lainnya terperosok. Di sisi lain, pemulihan properti AS menunjukkan kecenderungan pasar yang positif. 

Hampir semua pasar perumahan Asia dalam survei menunjukkan performa yang lebih buruk selam 2011 dibandingkan pada 2010. Untuk Asia sendiri, dimana kota-kota besar banyak menjadi tujuan para investor maupun pembeli global, tak luput dari keterpurukan.

Seperti di Hong Kong harga perumahan di sana hanya naik 5,32 persen, jauh merosot dibandingkan 2010 yang naik 18,87 persen. Di Singapura naik 0,28 persen saja, setelah tahun sebelumnya naik hingga 13,06 persen. Hal tersebut diakibatkan faktor pembatasan pembelian properti yang diberlakukan pemerintah setempat dan ketidakpastian kondisi ekonomi global.

Demikian pula yang terjadi di Taiwan, China (Shanghai) dan Jepang (Tokyo) dan banyak analis memperkirakan hal ini masih akan berlanjut hingga beberapa bulan mendatang. Sementara negara Asia lainnya menunjukkan pasar yang kurang bergairah, Indonesia (14 kota) dan Korea Selatan kompak meningkat masing-masing 0,89 persen dan 2,94 persen.

Dalam laporan GPG, juga menunujukkan New Delhi dan Brazil sebagai pasar perumahan terkuat di dunia, dan kemajuan nilai rata-rata ditunjukkan oleh Selandia Baru dan tetangganya Australia. Hal tersebut dinilai akibat terjadinya deflasi di Eropa serta beberapa langkah pendinginan di Timur Tengah.
(rhs)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Chevron Minta Kepastian Hukum untuk Pikat Investor