JAKARTA - Pemerintah awalnya menetapkan kuota untuk penjualan sukuk ritel 004 sebesar Rp13,6 triliun kendati terjadi kelebihan permintaan sejumlah Rp5,4 triliun atau 39,7 persen sebesar Rp19 triliun.
"Pemerintah menetapkan kuota yang akan diserap sebesar Rp13,6 triliun dan menolak seluruh permintaan upsize dari agen penjual," ungkap Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto, kala ditemui di kantornya,Jakarta, Senin (19/3/2012).
Rahmat menjelaskan, pertimbangan menolak permintaan tersebut antara lain, jumlah tersebut telah mencapai target penerbitan sukuk ritel dalam strategi pembiayaan 2012. Lalu, komitmen penjualan sukuk ritel 004 sebesar Rp13,6 triliun merupakan komitmen tertinggi dibandingkan seluruh penerbitan sukuk ritel sebelumnya. Selain itu juga untuk memberikan ruang untuk penerbitan jenis instrumen SBSB lainnya.
"Ketersediaan underlying proyek dan SBSN, jangan sampai habis untuk ritel saja," paparnya.
Rahmat menambahkan, minat beli masyarakat terhadap sukuk ritel 004 cukup besar ditandai dengan meningkatnya minat lembaga keuangan untuk menjadi agen penjual.
Adapun Jumlah investor sukuk ritel 004 ini juga mencapai 17.606 orang. Jumlah investor itu dinilai terbanyak dalam penjualan sukuk ritel selama ini. "Rata-rata pembelian per investor adalah sebesar Rp773,25 juta. Modus Rp100 juta, minimal pembelian Rp5 juta dan maksimal pembelian Rp5 miliar," kata Rahmat.
Untuk distribusi berdasarkan satuan pembelian, sebagian besar investor yaitu 14.558 atau 82,6 persen menyampaikan pemesanan pembelian maksimal Rp1 miliar dengan total volume pemesanan pembelian Rp4,12 triliun.
Sedangkan berdasarkan wilayah, jumlah investor terbanyak 50 persen berada di wilayah Indonesia bagian barat selain Jakarta. Tapi volume pemesanan terbesar 46 persen di DKI Jakarta.
Sementara itu, distribusi berdasarkan profesi, jumlah investor terbanyak 28 persen berprofesi PNS,sedangkan volume pembelian terbesar masih dipegang oleh pegawai swasta sebesar 29 persen.
Sekedar informasi, sukuk ritel 004 ini ditawarkan oleh 24 agen penjual terdiri dari 13 bank umum dan 11 perusahaan efek. Tanggal penerbitan pada 21 Maret 2012 dengan jatuh tempo 21 September 2015. Imbalan fixed rate 6,25 persen per tahun di mana pembayaran bunga secara bulanan. Underlying asetnya proyek APBN 2012.
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.