BANDUNG - Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengakui, saat ini isu negatif di dunia internasional menghantam nama baik Indonesia, khususnya terkait Crude Palm Oil (CPO). Tudingan itu terutama muncul dari Amerika Serikat (AS) yang menyatakan bahwa CPO Indonesia melampaui batas yang ditentukan.
"Padahal penelitian menunjukkan tudingan tersebut tidak betul," tegas Hatta usai Musyawarah Nasisonal VIII Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) di Bandung, Kamis (12/4/2012).
Lanjut dia, Indonesia harus memiliki data akurat bahwa tudingan tersebut tidak benar. Setelah itu, harus dibawa ke pertemuan bilateral untuk disampaikan Hatta menegaskan, pihaknya sudah melakukan bantahan tersebut di forum internasional. Pihaknya juga akan melakukan bantahan serupa pada setiap kesempatan. "Kita menunggu pertemuan lagi tanggal 21 ini," ujarnya.
Dalam pertemuan nanti, Indonesia juga akan membantah sebagai negara yang memiliki kerusakan lingkungan. Kata dia, Indonesia memiliki Indonesian Suistainable Palm Oil (ISPO), di mana semua anggotanya harus masuk kategori yang ada di ISPO. "Kita ingin ada suatu keadilan dalam perdagangan ini, jangan diskriminasi," ungkapnya.
Dia bertekad akan melawan setiap diskriminasi terhadap Indonesia di pentas perdagangan internasional. "Kalau ada unfair di perdagangan kita harus lawan," tambahnya.
Cara melawan perlakuan negatif dan diskriminatif tersebut, kata Hatta, misalnya dengan cara membahasnya di dobel IPO untuk menjelaskan dan membantah secara bilateral. Dalam kesempatan itu, sawit ekspor Indonesia yang diekspor mencapai 60-65 persen dalam bentuk CPO. Menurutnya, tantangan 20 tahun ke depan harus lebih dari 70 persen dan harus sudah diolah.
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.