Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

2011, Tahun Suram Freeport Indonesia

Widi Agustian , Jurnalis-Jum'at, 20 April 2012 |14:39 WIB
2011, Tahun Suram Freeport Indonesia
Ilustrasi. (Foto: Corbis)
A
A
A

JAKARTA - 2011 tampaknya bukan tahun yang menggembirakan untuk PT Freeport Indonesia, perusahaan yang sebanyak 90,64 persen sahamnya dimiliki oleh perusahaan Amerika Serikat (AS) PT Freeport McMoran.

Pasalnya, penjualan emas dan tembaga perusahaan pada 2011 tercatat berada pada level terendah dalam tiga tahun terakhir. Hal ini tampaknya akibat demo besar-besaran karyawan Freeport pada akhir 2011 lalu.

Demikian terungkap dalam laporan tertulis Freeport McMoran seperti dikutip okezone, Jumat (20/4/2012).

Pada 2011, Freeport hanya menjual emas sebanyak 1,27 juta ounce. Sementara penjualan pada 2010 lebih tinggi, yakni 1,765 juta ounce. Bahkan pada 2009, penjualan emas Freeport berhasil menyentuh level 2,543 juta ounce.

Produksi emas Freeport di Indonesia pada 2011 lalu tercatat hanya sebesar 1,272 juta ounce. Padahal, perusahaan berhasil menghasilkan emas sebanyak 1.786 juta ounce pada 2010. Bahkan, pada 2009, emas yang diproduksi mencapai 2,568 juta ounce.

Penurunan juga terjadi pada tembaga yang dihasilkan perseroan. Pada 2011, penjualan tembaga perseroan tercatat sebesar 846 juta pounds. Sementara pada 2010 tercatat sebesar 1,214 miliar pounds, dan pada 2009 penjualannya sebesar 1,4 miliar pounds.

Lalu produksi tembaga Freeport pada 2011 hanya sebanyak 846 juta pounds. Sementara pada 2010 sebesar 1,222 miliar pounds dan produksi pada 2009 sebanyak 1,412 pounds.

Sebelumnya, serikat pekerja Freeport Indonesia melakukan mogok pada 15 September mendatang. Jumlah pekerja yang melakukan demonstrasi diperkirakan mencapai 11 ribu orang. Alhasil, kegiatan pertambangan Freeport mengalami kelumpuhan pada saat itu.

Freeport Indonesia akhirnya mengumumkan kondisi force majeure tambangnya di Papua karena kisruh demonstrasi pegawai besar-besaran yang membuat tak bisa mengolah hasil produksi tambangnya. Kondisi ini juga membuat pemerintah rugi.

Sejak status force majeure diberlakukan 22 Oktober 2011 lalu, produksi bijih logam PTFI di Papua diperkirakan hanya tersisa lima persen. Ini karena kondisi lapangan Freeport terhenti total. Pipa distribusi konsentrat emas, perak, atau tembaga, dirusak dan sehingga produksi tidak berlanjut. Hanya kegiatan penambangan bijih yang berjalan, namun produksinya diperkirakan mengalami penurunan.

(Widi Agustian)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement