Ilustrasi. (Foto: Corbis)
NEW YORK - Minyak mentah berjangka mulai merangkak naik setelah Amerika Serikat (AS) melaporkan stok minyak mentahnya lebih besar dari yang diperkirakan. Selain itu, kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve, mengatakan akan mempertahankan suku bunga sangat rendah setidaknya sampai dengan 2014.
The Fed mengatakan, ekonomi AS telah berada di jalurnya dan pasar tenaga kerja telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun terbilang tinggi, namun tercatat tingkat pengangguran terus mengalami penurunan menurun.
Persediaan minyak mentah AS pun naik lima minggu berturut-turut, hampir empat juta barel dalam sepekan, jauh melebihi beberapa prediksi analis yang mengatakan kenaikan persediaan hanya mencapai 2,7 juta barel.
"Kenaikan harga minyak didukungan beberapa ekuitas. Minyak mentah saat ini akan mengalami reli, setelah support minyak mentah di kisaran USD103 per barel tidak ditembus," kata analis Grup Schork Hamza Khan, di Villanova, Pennsylvania seperti dilansir dari Reuters, Kamis (26/4/2012).
Selain itu, EIA juga melaporkan kenaikan stok bensin AS yang melebihi perkiraan sebesar 2,24 juta barel, dan 3,05 juta barel untuk minyak sulingan, termasuk minyak pemanas dan diesel, penurunan keempat dalam lima minggu.
Di London, minyak mentah ICE Brent untuk pengiriman Juni menetap di USD119,12 per barel, naik 96 sen. Brent rebound setelah dua hari berturut-turut merugi. Sedangkan minyak mentah AS, West Texas Intermediate, untuk pengiriman Juni ditutup naik 57 sen menjadi USD104.12 per barel, tertinggi sejak 17 April.
Premi Brent terhadap minyak mentah AS pun melebar menjadi USD15 per barel, dari sebelumnya USD14.61 per barel. (mrt)