Ilustrasi.
MADRID - Ekonomi Spanyol saat ini tengah menghadapi krisis ekonomi dalam proporsi yang besar. Persoalan ekonomi datang bertubi-tubi, tanpa ada sebuah solusi yang berarti.
Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Garcia-Margallo mengatakan, hal tersebut terbukti dari jumlah pengangguran mencapai angka tertinggi dalam dua dekade terakhir. Belum lagi Lembaga Rating S&P, menurunkan peringkat utang Spanyol.
Pengangguran tercatat melonjak 24 persen pada kuartal II-2012. Penjualan ritel juga merosot pada waktu yang sama selama 21 bulan berturut-turut imbas dari resesi.
"Angka-angka yang mengerikan bagi semua orang dan mengerikan bagi pemerintah, Spanyol berada dalam krisis proporsi besar," katanya seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (28/4/2012).
Asosiasi Perbankan Italia mengatakan, jika ekonomi mungkin saja akan mengalami kontraksi sebesar 1,4 persen atau mengalami kenaikan, karena menurut perkiraan pemerintah pertumbuhan ekonomi berada di level 1,2 persen.
Spanyol telah tergelincir ke dalam resesi untuk kedua kalinya dalam tiga tahun terakhir. Hal itu menjadi ketakutan lantaran hal itu tidak bisa menekan pemotongan defisit anggaran.
Menteri Ekonomi Luis de Guindos mengatakan, pemulihan dan penciptaan lapangan kerja membutuhkan waktu dua tahun lagi. Dia memperkirakan pertumbuhan 0,2 persen dalam produk domestik bruto akan terjadi tahun depan dan 1,4 persen pertumbuhan pada tahun 2014.
De Guindos juga mengatakan Spanyol akan meningkatkan pajak pertambahan nilai dan pajak tidak langsung lainnya tahun depan, tetapi akan berusaha untuk mengurangi pajak gaji. Spanyol memiliki PPN rendah dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya, bahkan setelah adanya kenaikan pada 2010.
Pemerintah telah menyelamatkan sejumlah bank yang juga terkena ledakan pembangunan selama satu dekade yang jatuh pada tahun 2008. Sebaliknya, nvestor takut memberi pinjaman karena dianggap rentan akan gelombang gagal bayar imbas dari perlambatan ekonomi. (nia) (rhs)