JAKARTA - PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) bisa saja menggunakan tiga alternatif berbarengan untuk mengatasi beban akibat obligasi rekap. Beban yang harus ditanggung oleh BUMN tersebut untuk obligasi rekap itu mencapai Rp13 triliun per tahun.
"Kita harus melaksakan ketiga (alternatif) itu berbarengan," kata Direktur Micro & Retail Banking Bank Mandiri Budi G Sadikin, di Jakarta, Senin (30/4/2012).
Pertama, menjual langsung ke pasar. Kedua, menjual ke Bank Indonesia untuk digunakan sebagai instrumen moneter. Ketiga, mengupayakan agar pemerintah melakukan buy back obligasi rekapitalisasi, dalam hal ini adalah Kementerian Keuangan. "Dari tiga itu, buy back yang paling murah," imbuhnya.
Bank Mandiri berniat segera menuntaskan rencana melepas obligasi rekapitalisasi berstatus Available for Sale (AFS) untuk bisa semakin mendorong ekspansi perusahaan.
"Mudah-mudahan dengan tiga upaya tersebut, level rekap bond Bank Mandiri bisa menurun dan hasil penjualan rekap bond ini menghasilkan dana tunai yang bisa digunakan untuk penyaluran kredit atau fingsi intermediasi Bank Mandiri," ujar Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini belum lama ini.
Dia mengatakan, penjualan obligasi rekap perlu dilakukan mengingat adanya penurunan yield sejak perubahan referensi dari SBI 3 bulan menjadi SPN 3 bulan yang yield-nya tiga persen. Jika obligasi rekap tetap dipertahankan, maka bisa menurunkan kinerja Bank Mandiri.
"Kalau dana pihak ketiga (DPK) deposito dipakai untuk membiayai obligasi rekap sekarang bisa enam persen, padahal yield SPN tiga bulan tiga persen dapat terjadi negative spread dari obligasi rekapitalisasi," jelas Zulkifli.
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.