JAKARTA - Dibatalkannya pemberian rating Indonesia oleh lembaga pemeringkat S&P dinilai merupakan hal yang lebih baik. S&P diyakini memiliki alasan untuk membatalkan predikat layak investasi untuk RI itu.
"Masih lebih baik ditunda, jadi masih ada kesempatan, daripada diturunkan ratingnya," ungkap analis pasar modal Reza Priambada saat dihubungi Okezone di Jakarta, Selasa (1/5/2012).
Reza mengatakan, S&P membatalkan pemberian rating investment grade untuk Indonesia memang bukan tanpa alasan. Namun katanya, alasan yang sebenarnya tidak terkait dengan perekonomian Indonesia. "Alasannya lebih kepada birokrasi yang ada. Banyak kebijakan pemerintah yang belum pasti, seperti BBM," akunya.
Dia mengatakan pula, jika seandainya rating Indonesia diturunkan, hal itu akan membuat citra buruk dan pada akhirnya akan menurunkan reputasi Indonesia. Sebab Indonesia dianggap sebagai negara yang dipandang memiliki perekonomian yang dianggap cukup baik. "Kalau diturunkan, imbasnya jelek. Kemampuan Indonesia di Asia bisa berkurang," katanya lagi.
Sehingga, meskipun dibatalkannya peringkat tersebut, sebenarnya pihak asing masih melihat Indonesia merupakan negara yang positif pertumbuhannya. "Pertumbuhan Indonesia stabil dibanding negara lain seperti Jepang. Investor asing masih akan meningkatkan investasi di negara berkembang. Outlook Indonesia masih positif di mata mereka," jelasnya.
Kepala BKPM, Gita Wirjawan sebelumnya juga mengatakan jika S&P belum memberikan gelar investment grade untuk Indonesia lantaran batalnya kenaikan harga BBM subsidi. "Soal S&P saya tidak terlalu khawatir, saya rasa ini masalah waktu saja," ungkap Gita.
Meskipun pada situasi saat ini kepastian kebijakan pengendalian konsumsi BBM bersubsidi masih belum terealisasi. Selain itu, keyakinan ini pun timbul sehubungan dengan dua lembaga pemeringkat ternama, Fitch Rating dan Moody's, telah memberikan rating investment grade untuk Indonesia.
"Hanya tinggal menunggu waktu saja dan ini hanya bisa didukung dengan data-data positif dan ini akan mempengaruhi peningkatan. Target Indonesia bukan investment grade, tapi tidak ada alasan untuk kita jadi single A," tandas Gita.
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.