SEKTOR RIIL

Buruh Jadi Faktor Mandeknya Penjualan Alas Kaki

Selasa, 08 Mei 2012 17:37 wib
Sandra Karina - Koran SI
Ilustrasi. (Foto: Okezone) Ilustrasi. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Stagnannya penjualan alas kaki nasional di kuartal I-2012 memang terjadi akibat adanya perlambatan ekonomi di negara lain. Meski begitu, ada juga faktor internal yang mempengaruhi penjualan tersebut.

Direktur Industri Tekstil dan Aneka Ditjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Ramon Bangun mengatakan, selain perlambatan ekonomi di negara lain, penurunan atau stagnasi penjualan juga dipengaruhi oleh faktor internal seperti masalah buruh.

"Sebenarnya pengaruh krisis itu juga tidak besar, karena yang kita ekspor itu kan bukan sepatu kelas high end. Sepatu itu bukan barang sensitif yang bisa diubah ketika ada penurunan pendapatan perusahaan. Berbeda dengan produk lain seperti makanan," ungkap dia di Jakarta, Selasa (8/5/2012).

Meski penjualan tidak bertumbuh di awal tahun. Namun, industri alas kaki saat ini membutuhkan banyak tenaga kerja yakni sekira 30 ribu orang.

"Para produsen bilang penjualan tidak meningkat karena sepi order, tapi mereka malah membutuhkan banyak tenaga kerja. Tenaga kerja yang banyak itu dibutuhkan untuk investasi baru atau pengalihan order dari negara lain," kata Ramon.

Dia menambahkan, ketika China mengalami penurunan permintaan alas kaki sebesar dua persen, maka Indonesia sudah kebanjiran pesanan.

Ramon menjelaskan, para produsen alas kaki yang sudah eksis di Indonesia terus menambah investasinya meski dalam jumlah yang relatif kecil. Mereka, kata dia, terus mengoptimalkan kapasitas terpasang. Dia mencontohkan, produsen alas kaki asal Taiwan dengan merek Young Tree sedang menambah empat line mesin. Pabrik itu, kata dia, harus menambah line mesin karena sudah kebanjiran order.

"Kalau saya perkirakan dengan adanya keterkaitan program restrukturisasi, maka tambahan investasi sejak Juli 2011 ada sekira USD16 juta. Jumlah itu belum termasuk hitungan investasi perusahaan baru," jelasnya.

Di sisi lain, fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) menimbulkan sedikit ketidaknyamanan di sejumlah sektor industri termasuk alas kaki. Untuk itu, dia akan membicarakan hal itu dengan Badan Kebijakan Fiskal (BKF).

"Regulasi kita mungkin memang kurang pas. Saya akan bicarakan itu dengan BKF. Lucu kan sepatu kita produksi di sini lalu diekspor ke Singapura, kemudian diekspor lagi ke sini. Sebenarnya itu tidak efisien, tapi kalau di usaha bisnis itu menguntungkan," tandasnya.sandra karina (Sandra Karina/Koran SI/mrt)

Berita Selengkapnya Klik di Sini
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.

getting time ...

 
Berita
Terpopuler
Komentar Terbanyak
BACA JUGA ยป