JAKARTA - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), induk usaha kelompok Bakrie mengakui telah melakukan pembelian saham perusahaan terafiliasinya PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan kisaran harga Rp2.200-Rp2.400 per saham.
"Transaksi pembelian saham BUMI dilakukan dalam periode Januari-April 2012," jelas Direktur & Corporate secretary BNBR RA Sri Dharmayanti dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (15/5/2012).
Per 2 April 2012, jumlah saham BUMI yang dibeli perseroan dengan menggunakan fasilitas dari Mitsubishi Corporation sebanyak 548,59 juta saham. Dia menegaskan, kepemilikan perseroan pada BUMI setelah transaksi dilaksanakan sebesar 2,64 persen dari total saham beredar BUMI.
"Sebagai perusahaan investasi, perseroan melihat adanya potensi return di masa depan atas investasi pada saham BUMI," ungkap dia.
Walau demikian, saham BUMI, pada pukul 11.37 waktu JATS hari ini, turun sampai Rp60 menjadi Rp1.780 dari posisi awal perdagangan di Rp1.840. Apa yang dilakukan BNBR ini tampaknya adalah usaha dari Grup Bakrie untuk menahan laju pelemahan saham BUMI.
Analis dari Universal Broker Indonesia Satrio Utomo pernah mengatakan jika pelemahan saham ini tak lepas dari sentimen negatif dari kabar buruk yang dibawa S&P. "Saham BUMI ini mengalami tekanan. Tentu saja hal ini tidak terlepas dari berita S&P ini," kata dia saat berbincang dengan Okezone, belum lama ini.
Sebelumnya, S&P menjelaskan prospek negatif BUMI mencerminkan utang perseroan yang lebih tinggi dari antisipasi S&P. Prospek negatif tersebut juga mencerminkan ekspektasi kinerja operasional Bumi Resources akan melemah pada tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu. Hal ini berdampak terhadap pertumbuhan arus kas perseroan yang tumbuh moderat.
Menurutnya, dua faktor ini akan membatasi kemampuan Bumi Resources untuk mengurangi beban utang dalam setahun ke depan. S&P menilai risiko finansial Bumi Resources pada level agresif. S&P memperkirakan rasio dana dari operasional terhadap total utang mencapai level sekira 10 persen dalam 12 bulan hingga 18 bulan ke depan sehingga membatasi upaya pembayaran maupun pembiayaan kembali utang.
S&P juga melihat ada kewajiban Bumi Resources senilai USD480 juta yang jatuh tempo pada tahun depan dan review terhadap penilaian perseroan akan dilakukan apabila gagal menggalang dana untuk memenuhi kewajiban tersebut.
Bumi Resources sudah membantah apa yang disampaikan S&P. BUMI menuturkan, arus kas operasionalnya sekarang ini memang tergantung kepada faktor yang tidak bisa dikendalikannya. BUMI mengakui, harga jual batu bara, juga kondisi ekonomi global sangat mempengaruhi kondisi keuangan perseroan.
Direktur dan Corporate Secretary Bumi Resources Dileep Srivastava menjelaskan, kekhawatiran yang diungkapkan S&P terkait ancaman tidak terbayarnya utang jatuh tempo Bumi Resources adalah tergantung faktor yang tidak bisa kita kontrol.
Satrio melanjutkan, saham BUMI ini masih berpotensi untuk melemah. Satrio menyebut, batas bawah (support) harga saham BUMI ini ada di Rp1.600-Rp1.750. "Kalau saya melihat harga saham ini masih akan cenderung melemah ke depannya," jelas dia.
Sejak kabar buruk dari S&P ini pada 3 Mei lalu menerpa, harga saham BUMI ini memang terlihat mengalami pelemahan. Pada 3 Mei, harga saham ini turun ke Rp1.980. Lalu keluarnya bantahan dari BUMI membuat harga saham ini kembali menanjak menjadi Rp2.025 pada 4 Mei. Tapi, pada 7 Mei, harga saham ini jatuh lagi menjadi Rp1.970. Pada 8 Mei, kembali turun menjadi Rp1.950.
Ternyata tak hanya itu, sentimen negatif juga datang dari kinerja keuangan Bumi Resources yang mencatatkan laba bersih sebesar USD215,1 juta pada akhir 2011. Turun 19,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya USD266,1 juta.
Pendapatan produsen batu bara itu naik menjadi USD4 miliar dibandingkan sebelumnya yang sebesar USD2,93 miliar. Alhasil, perusahaan yang dipimpin oleh Ari Saptari Hudaya ini masih mencatatkan kenaikan laba bruto sebesar USD1,59 miliar dibandingkan periode sebelumnya yang hanya USD651,8 juta.
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.