Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pegawai BUMN Baru Ingin Berinvestasi

Pegawai BUMN Baru Ingin Berinvestasi
Diana Sandjaja, SE, RFP for okezone. Foto: MRE
A
A
A

Saya seorang pegawai BUMN baru, yang hanya lulusan SMA, dan dibeasiswakan D1 oleh BUMN tempat saya bekerja. Dengan usia yang relatif muda (19 tahun), saya memiliki gaji Rp3 juta per bulan.

Saya berencana untuk melanjutkan kuliah (minimal S1), dan berinvestasi (seperti membeli rumah, tanah, emas, dll). Yang ingin saya tanyakan, bagaimanakah langkah saya untuk mengatur keuangan saya, agar saya dapat kuliah dan berinvestasi, dan investasi jenis apakah yang paling cocok (maksud saya tidak terlalu rumit dan berisiko)?

Oleh:
Andri Joe
[email protected]
Palembang

Hai Mas Andri di Palembang,
Sebagai seorang pegawai baru yang masih muda (19 tahun) dan mempunyai penghasilan, saya yakin seharusnya memadai untuk seseorang yang masih lajang. Selain itu, saat ini untuk pendidikan D-1 mendapat beasiswa dari perusahaan.

Namun, memang untuk peningkatan karier dimasa yang akan datang, Mas Andri harus meningkatkan kompetensi diri salah satunya dengan kuliah untuk mendapatkan ijasah S-1. Biaya kuliah S-1 sangat tergantung dari tempat kuliah yang dipilih, jika universitas swasta ternama, biayanya sampai tamat bisa mencapai puluhan juta rupiah. Tapi, ada juga tempat kuliah yang memberikan keringangan cara pembayaran dengan dicicil setiap bulan sehingga tidak terasa berat.

Saran saya, sambil Mas Andri mensurvei universitas yang sesuai dengan kebutuhan Anda, dana untuk kuliah tetap disisihkan setiap bulan. Saya asumsikan dana ini akan dipergunakan dalam jangka waktu satu sampai dua tahun karena pendidikan D-1 selesai sekira satu tahun saja, maka dana kuliah ini sebaiknya disimpan dalam instrumen deposito atau logam mulia.

Dari penghasilan Rp3 juta per bulan, diusahakan hanya 50 persen untuk biaya hidup. Usahakan menabung paling sedikit 20 persen dari penghasilan, karena ada tujuan keuangan yang akan dicapai dalam waktu dekat, yakni membentuk dana kuliah. Sisanya, bisa dimasukan dalam instrumen investasi lain.

Seperti yang sudah Mas Andri ketahui, yaitu emas, rumah, tanah. Tapi sebelum melangkah berinvestasi, Anda harus membuat prioritas kebutuhan keuangan dahulu, misalnya, apakah sudah memiliki asuransi kesehatan yang memadai? Apakah dana untuk pensiun sudah mulai dipikirkan? Adakah rencana lain dalam waktu dekat seperti misalnya menikah, membeli rumah dan lain-lain?

Hal ini perlu diketahui agar kita bisa memperkirakan besar dana yang diperlukan dan jangka waktu yang dimiliki, baru selanjutnya kita masukan dalam instrumen investasi yang cocok dengan profil risiko Mas andri.

Sebelum berinvestasi, Mas Andri juga perlu mengetahui karakter dari masing-masing instrumen investasi. Misalnya, emas. Tren belakangan ini memang emas mengalami kenaikan harga, dan merupakan instrumen yang likuid karena mudah dijual dan digadaikan, namun bagaimana proyeksi return dimasa yang akan datang? Belum lagi tempat penyimpanan yang harus disediakan karena risiko hilang amat besar.

Mas Andri bisa menggunakan instrumen investasi emas untuk tujuan-tujuan keuangan yang memerlukan likuiditas, misalnya dana untuk kuliah yang akan dipakai dalam jangka waktu kurang dari dua tahun, dana cadangan atau dana darurat yang stand-by dan siap digunakan kapan saja.

Emas juga digunakan sebagai lindung nilai ketika inflasi. Sedangkan instrumen properti yaitu tanah, rumah, ruko, bisa digunakan untuk tujuan investasi jangka panjang ataupun investasi yang lebih memprioritaskan pada adanya incoming cash flow, karena bisa disewakan. Sementara jika untuk diperjualbelikan dalam jangka pendek maka perlu mempertimbangkan cost jual beli (biaya pajak, biaya surat-surat, biaya notaris, dan komisi perantara) dibandingkan kenaikan dari harga properti itu sendiri.

Ada lagi instrumen reksa dana, yang terbagi dalam reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran, dan reksa dana saham. Pembagian tersebut berdasarkan komposisi dari reksadana itu sendiri. Instrumen ini bisa dipakai untuk tujuan jangka pendek, menengah dan panjang.

Reksa dana adalah suatu bentuk dana kelolaan yang dikelola oleh manajer investasi untuk ditransaksikan dalam bentuk surat berharga (saham, obligasi, dll). Dalam reksa dana, kita tidak ikut bertransaksi saham, karena sudah dikelola oleh manajer investasi.

Oleh karena itu, bisa dikatakan tidak terlalu rumit dan repot, tapi kita harus pandai-pandai memilih reksa dana yang sesuai dengan kebutuhan investasi. Reksa dana bisa digunakan untuk tujuan pembentukan dana pensiun, dana pendidikan anak, dan lainnya.

Untuk mengenal instrumen ini, silakan Mas Andri memperkaya wawasan dahulu sebelum berinvestasi di dalamnya. Tapi, jangan lupa masing-masing jenis instrumen juga ada risikonya sesuai dengan return yang diberikan. Prinsip jangan menaruh semua investasi Anda dalam satu keranjang juga perlu diperhatikan. Selamat berinvestasi!

Diana Sandjaja, SE, RFP for Okezone
MRE Financial & Business Advisory
www.mre.co.id

Office:
One Pacific Place 15th Floor, Sudirman Central Business District
Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53 Jakarta 12190 Indonesia
Phone : +62 21 2550 2425 Fax : +62 21 2550 2555

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement