JAKARTA - Indonesia memerlukan dana pinjaman siaga sebesar USD5 miliar untuk menutupi defisit anggaran. Anggaran ini diperlukan, lantaran ketidakpastian zona eruo yang terus menekan perekonomian global.
"Kita mengharapkan akan mencapai USD5 miliar," tegas Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo kala ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin (21/5/2012).
Agus melanjutkan, dari dana USD5 miliar tersebut pemerintah telah mendapatkan pinjaman dana dari World Bank sebesar USD2 miliar. Sedangkan sisanya sebesar USD3 miliar, sampai saat ini masih dicari. Sayangnya, Agus tidak mengungkapkan secara spesifik, bagaimana pemerintah akan memperoleh sisa dana pinjaman siaga tersebut.
Diberitakan sebelumnya, Indonesia berutang sebesar USD2 miliar kepada World Bank akan digunakan untuk berjaga-jaga yakni untuk menjaga defisit. Dengan pinjaman tersebut maka target defisit tidak akan berubah. Sehingga dengan adanya dana tersebut, maka akan menjaga defisit di kisaran 2,23 persen.
Dengan World Bank menjadi lead sindikasi, maka pemerintah dapat meminta partisipasi dari banyak pihak. "Terutama multilateral agency. Sehingga, nantinya tercipta dana yang bisa dipakai untuk kehati-hatian bagi Indonesia," jelas Agus.
Dengan adanya dana cadangan tersebut maka pemerintah akan menggunakan sebagai pembiayaan dalam APBN. Agus menambahkan, dan cadangan tersebut bisa dalam bentuk dana yang ditarik untuk membiayai kebutuhan pembiayaan APBN kita atau semacam jaminan.
"Bagi pemerintah kalau seandainya pemerintah mau masuk ke pasar, dan pasar responsnya buruk, diberikan jaminan oleh lembaga-lembaga internasional ini. Sehingga, kita bisa akses ke pinjaman," tuturnya.
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.