JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memaparkan ketika permintaan dolar Amerika Serikat (AS) yang sedang mengetat saat ini, Pertamina merupakan perusahaan dalam negeri yang paling banyak membutuhkan dolar (AS).
"Jangan lupa, yang selalu paling besar memerlukan dolar itu adalah Pertamina. Untuk apa? Untuk impor BBM. Nah, itu harus dipenuhi. Kalau tidak ada dolarnya (AS) bisa fatal di pasar," ujar Gubernur BI Darmin Nasution di Jakarta.
Komentar tersebut dilontarkan Darmin menanggapi mengetatnya kurs rupiah terhadap dolar dan besarnya kebutuhan dolar di dalam negeri. Menurut mantan dirjen pajak ini, pelemahan rupiah terhadap dolar AS terjadi akibat upaya investor mengamankan dananya.
Dana yang diinvestasikan dalam berbagai insturmen investasi kemudian ditukarkan dalam dolar AS yang dianggap sebagai safe haven. "Ketidapkastian gejolak perekonomian Eropa dan munculnya isu Yunani akan keluar dari zona Euro membuat investor yang berada di emerging market maupun negara maju mencairkan dananya dan mencari negara-negara yang aman," lanjutnya.
Dana yang mereka cairkan dari surat berharga seperti obligasi dan SBI, ditambahkan Darmin, kemudian ditukar dalam bentuk dolar AS dan dibawa ke negara-negara yang dianggap safe haven yaitu Jepang dan Amerika.
"Nah, tekanan itu yang membuat kurs kemudian meningkat, Rupiah sedikit melemah tetapi itu terjadi di seluruh negara, kecuali di Amerika dan Jepang," tambah dia.
Darmin menyebut, dalam kondisi seperti ini jika tidak diimbangi dengan supply yang baik maka kebutuhannya akan mengetat. Bank Sentral akan terus berperan aktif untuk menjaga agar lonjakan kurs tidak terlalu besar.
"Kita harus jual dolar AS, kita (BI) supaya masuk di pasar. Berapa lama keadaan kurs seperti ini ya keliatannya sampai ada berita baik tentang Yunani dan Eropa," tandasnya. (gna)
(Martin Bagya Kertiyasa)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.