Ilustrasi. (Foto: Okezone)
JAKARTA - Nilai tukar rupiah mengalami tekanan depresiasi terkait dengan faktor eksternal. Alhasil, pada bulan Mei 2012, rupiah berada di level Rp9.400 per USD.
Direktur Kepala Grup Hubungan Masyarakat BI Difi A Johansyah menjelaskan, pada bulan Mei 2012, rupiah secara point-to-point melemah sebesar 2,23 persen (mtm) ke level Rp9.400 per USD atau secara rata-rata melemah 0,95 persen (mtm) menjadi Rp9.254 per USD.
"Tekanan terhadap nilai tukar rupiah disebabkan oleh permintaan valuta asing yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan impor, utamanya impor BBM," jelas dia dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (12/6/2012).
Tekanan atas rupiah juga datang dari pembayaran utang luar negeri, dan repatriasi pendapatan pihak asing, ditengah meningkatnya permintaan valas terkait portfolio rebalancing oleh pelaku nonresiden akibat adanya sentimen global sehubungan penyelesaian krisis di Eropa.
Untuk menjaga keseimbangan pasar valuta asing, Bank Indonesia terus mengambil langkah-langkah untuk menjaga kecukupan likuiditas pasar, antara lain didukung dengan penguatan operasi moneter melalui pengembangan instrumen moneter valuta asing seperti term deposit valuta asing, serta memperkuat koordinasi dengan Pemerintah untuk memitigasi dampak negatif dari risiko pemburukan ekonomi global. (wdi)