Ilustrasi. (Foto: Okezone)
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengaku terus memantau dan menyiapkan langkah antisipatif yang diperlukan, terkait potensi memburuknya krisis Eropa, khususnya terkait pelaksanaan Pemilu di Yunani tanggal 17 Juni 2012.
“Kita akan meningkatkan pasokan valas di pasar sesuai dengan kebutuhan sebagai bagian untuk stabilisasi nilai tukar rupiah,” kata Gubernur BI Darmin Nasution dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (15/6/2012).
Di samping intervensi di pasar valas, BI juga terus melanjutkan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang selama ini telah dilakukan, termasuk pembelian SBN di pasar sekunder, penerbitan term deposit valas, dan pengembangan instrumen-instrumen transaksi valas di dalam negeri lainnya.
“Bank Indonesia menilai dampak langsung dari krisis Eropa terhadap korporasi maupun perbankan Indonesia sejauh ini relatif terbatas,” kata Darmin.
Dia melanjutkan, dampak memburuknya krisis Eropa terutama dirasakan pada tekanan di pasar valas dan pasar keuangan. Dampak tersebut telah terjadi selama ini, dengan intensitas yang meningkat khususnya sejak awal Mei, sebagaimana tercermin pada tekanan pelemahan nilai tukar dan penurunan indeks harga saham di kawasan Asia, termasuk Indonesia.
Oleh karena itu, BI selama ini telah meningkatkan pasokan likuiditas valas untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah dan juga melakukan pembelian SBN di pasar sekunder. Cadangan devisa per 31 Mei 2012 mencapai USD 111,5 miliar, atau cukup untuk memenuhi 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.
“Sejauh ini kondisi kecukupan likuiditas baik valas maupun rupiah tetap terjaga,” kata Darmin. (wdi)