Ilustrasi: Corbis
BEIJING - Korea Utara bersiap untuk melakukan reformasi di bidang pertanian dan ekonomi. Perubahan ini setelah adanya pergantian pemimpin di negara tersebut.
Seperti dikutip Reuters, salah seorang sumber yang menyebutkan, kabinet telah membuat biro khusus untuk mengendalikan ekonomi dan terbebas dari campur tangan militer.
Beberapa waktu lalu, kejatuhan Marsekal Yong-Ho dan sekutunya membuat kekuasaan baru di Korea Utara jatuh ke Jang Song Thaek yang menikah dengan keluarga Kim. Keluarga Kim inilah yang dianggap menguasai tahta dan dikabarkan sedang mencoba menyelamatkan ekonomi Korut yang babak belur.
Sebelumnya, ekonomi Korut babak belur dalam beberapa dasawarsa terakhir. Pemerintah pernah merevaluasi mata uang secara drastis tahun 2009 lalu dan kemudian memicu kemarahan publik yang luas.
"Ri Yong Ho adalah pendukung fanatik Kim Jong Il," kata sumber Reuters tersebut, Sabtu (21/7/2012). Kim Jong Un, adalah pemimpin Korut yang menjerumuskan negeri ini dalam keterpurukan ekonomi lebih parah.
Beberapa ahli Korea Utara ketika dikonfirmasi menyebutkan, kepemimpinan baru memang diharapkan akan mencoba berbuat sesuatu pada ekonomi negeri itu.
"Ini seharusnya tidak mengejutkan Kim Jong Un. Reformasi ini telah mendatangkan banyak pelajaran dan seharusnya mereka membuat cetakan baru antara kebijakan Ri yang sudah ada sebelumnya dalam proses ini," komentar Profesor dari Universitas Korea Yoo Ho Yeol.
Dia memperkirakan, pemimpin mereka Jang akan melakukan joint venture dengan China yang sebelumnya pernah membantu Korut.
Sementara seorang pakar di Sekolah Partai Central China Zhang Lainggui merasa skeptis dengan reformasi ini.
"Anda bisa melihat rencana reformasi dan membuka diri ini berulang di media. Namun mereka (pemerintah) cukup marah di titik ini," tambah Lianggui. (gna) (rhs)