Penerima Nobel Ekonomi Eric Maskin. (Foto: Trinity.edu)
JAKARTA - Penerima nobel ekonomi Eric Maskin mengatakan bila globalisasi menjanjikan kemakmuran terhadap negara-negara miskin. Hal ini, menurutnya, mungkin berhasil di China dan India.
Demikian disampaikan Maskin dalam paparannya bertajuk Why Have Global Markets Failed to Reduce Inequality in Poor Countries, seperti dikutip dalam keterangan tertulisnya kepada Okezone, Kamis (6/9/2012).
"Globalisasi juga menjanjikan hal yang lain, dalam hal ini adalah mengurangi jurang antara yang berpunya dan tidak (kesenjangan) di negara-negara miskin. Dalam kasus ini, globalisasi tidak berhasil, kesenjangan di negara-negara miskin justru meningkat," jelasnya.
Dia menambahkan, sebelum globalisasi, pekerja dengan kemampuan rendah dapat diuntungkan dengan dipasangkan dengan pekerja dengan kemampuan tinggi di suatu negara. Namun, setelah globalisasi, pekerja dengan kemampuan rendah di negara-negara miskin masih tertinggal (bekerja dengan pekerja dengan kemampuan rendah lainnya).
"Karena pekerja dengan kemampuan sedang di negara-negara miskin ini bekerja dengan pekerja dengan kemampuan yang lebih tinggi di negara-negara maju. Hal ini berpengaruh terhadap pendapatan pekerja dengan kemampuan rendah menjadi menurun," ungkapnya.
Secara kontras, lanjutnya, gaji pekerja dengan kemampuan sedang meningkat. Konsekuensinya, kesenjangan di negara miskin meningkat. Teori ini pun dapat memprediksikan peningkatan kesenjangan pada negara berkembang maupun negara maju (model sebelumnya tidak dapat melakukan ini).
"Implikasi kebijakan dari temuan ini adalah untuk meningkatkan keahlian (melalui pendidikan) pekerja dengan kemampuan rendah agar dapat memiliki kesempatan dipasangkan secara internasional. Pendanaan dapat dicari melalui pemerintah, agensi internasional, LSM, bantuan asing atau swasta," pungkasnya. (ade)