Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BTEL Terus Cetak Rekor Harga Terendahnya

Widi Agustian , Jurnalis-Jum'at, 07 September 2012 |11:26 WIB
BTEL Terus Cetak Rekor Harga Terendahnya
Ilustrasi. (Foto: Corbis)
A
A
A

JAKARTA - Harga saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) terus menerus mencetak rekor. Namun sayangnya, bukan rekor yang positif, tapi rekor terendah harga sahamnya pada tahun ini.

Pada perdagangan Kamis 6 September 2012 kemarin, harga saham BTEL ini ada di Rp135 per saham. Ini adalah harga saham terendah pada tahun ini. Tak berhenti sampai di situ, harga saham perusahaan telekomunikasi berbasis CDMA ini masih terus menerus mengalami pelemahan.

Pantauan Okezone, pada perdagangan pukul 10.56 waktu JATS, Jumat (7/9/2012), harga saham ini terekoreksi lagi menjadi Rp132 per lembarnya. Sejak awal tahun, harga saham anak usaha Grup Bakrie ini juga terus melemah. Berikut ini perkembangan harga saham Bakrie secara bulan sejak awal tahun ini.

2 Januari 2012 harga saham BTEL ditutup di Rp260.
6 Februari 2012 harga saham ditutup di Rp280.
5 Maret 2012 harga saham ditutup di Rp250.
2 April 2012 harga saham ditutup di Rp245.
7 Mei 2012 harga saham ditutup di Rp235.
5 Juni 2012 harga saham ditutup di Rp215.
2 Juli 2012 harga saham ditutup di Rp195.
6 Agustus 2012 harga saham ditutup di Rp160.

Padahal, pelunasan obligasi senilai Rp650 miliar pada 4 September 2012 kemarin membuat lembaga pemeringkat S&P telah menaikkan peringkat utang perseroan dari semula CCC- menjadi B- dengan outlook stabil.

Standard & Poor’s juga menaikkan peringkat Senior Notes BTEL yang jatuh tempo di 2015 dari CCC- menjadi B- dengan outlook stabil. Tapi, hal itu dinilai tidak memberikan pengaruh apa-apa kepada perseroan.

Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang menjelaskan, anak usaha Grup Bakrie ini masih dalam prospek negatif ke depannya. Karena itu, Edwin menjelaskan, kendati peringkat utang BTEL sudah naik dari CCC+ menjadi B-, tidak menjamin perusahaan tersebut sekarang sudah sehat. BTEL masih melakukan sistim gali lubang tutup lubang untuk membayar utang-utangnya.

"Ketika terjadi kerugian, kinerja BTEL memburuk, dan kategori B- itu masih terbilang kategori sampah," ungkap Edwin.

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement