"Ada Kemungkinan Saham Bakrie Group Salah Investasi"

|

Rizkie Fauzian - Okezone

Logo BUMI

JAKARTA - Pada 2009 bursa saham Indonesia banyak dikuasai oleh emiten anggota tujuh emiten di bawah bendera Grup Bakrie. Nilai perdagangannya bisa mencapai ratusan bahkan hingga milyaran rupiah.
 
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan  PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) merupakan dua emiten yang memiliki  nilai transaksi harian perdagangan mencapai ratusan juta hingga milyaran. Tidak berbeda saham milik Bakrie lainnya seperti PT PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP),  PT Darma Henwa Tbk, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), dan PT Energy Megapersada Tbk (ENRG) juga hampir selalu diperdagangkan dengan volume di atas 100 juta  lembar per hari.

Lain dulu lain sekarang. Kini saham Grup Bakrie mengalami masa sulit. Hal ini bisa dilihat dari salah satu perusahaan miliknya, seperti BUMI yang sahamnya terus anjlok, BTEL yang sempat diberhentikan perdagangannya karena telat melakukan pembayaran obligasi.

Laporan keuangan BRMS yang mengalami penurunan, ditambah masalah global seperti perlambatan pertumbuhan ekonomi di China yang memangkas outlook sektor batu bara Indonesia sehingga memaksa perusahaan produsen batu bara untuk mengurangi output dan memangkas biaya. Hal tersebut tentunya berdampak pada beberapa perusahaan milik Bakrie tersebut.

 Kondisi ini juga diperburuk dengan beberapa berita negatif yang menyebabkan harga saham Bakrie terus mengalami penurunan seperti kabar tentang default atau potensi gagal bayar hutang Grup Bakrie senilai Rp7,1 triliun yang baru-baru ini kembali menjadi perbincangan karena dhubungkan dengan berita divestasi saham PT Newmont.

Selain itu, adanya imbauan untuk menjauhi saham Bakrie seperti yang dikatakan dalam riset harian MNC Securities pada 7 September 2012,
 
"Diimbau kepada seluruh nasabah untuk menjauhi alias AVOID saham di bawah Bakrie Group akibat buruknya kinerja fundamental serta besarnya hutang terlebih gagal bayar utang Bakrie Group senilai Rp7,1 triliun," ungkap analis Senior Lin Che Wei dalam risetnya.
 
Analis Indosurya Assset Management Reza Priyambada mengatakan, sekarang ini banyaknya sentimen negatif tentang mereka sehingga harga sahamnya ke depan akan sangat tergantung dari upaya mereka untuk memulihkan kembali kepercayaan pasar.
 
"Upaya pemulihan tersebut kan bisa saja dengan membenahi laporan kinerja mereka namun sepertinya tidak dalam waktu dekat ini karena saya sendiri bingung dengan saham mereka yang tidak berpola," ungkap Reza kepada Okezone, Sabtu (8/9/2012).

Meskipun sebenarnya masih punya potensi untuk kembali naik, tetapui Reza menilai investor yang jarang melihat harga saham untuk tidak membeli saham di bawah bendera Bakrie Group.

"Pasti ada potensinya tetapo karena hutang dan mungkin salah investasi. Selain itu, terkesan ada yang disembunyikan dari mereka yang ditujukan untuk keuntungan perusahaan," tambah Reza.

Sebagai informasi tentang pergerakan saham BUMI yang merupakan andalan Grup Bakrie berada di level Rp2.550 pada penutupan di perdagangan awal tahun ini (2 Januari 2012). Artinya, harga saham ini sudah turun sebesar 304,76 persen.

Bahkan, jika dibandingkan dengan harga tertinggi saham ini pada tahun 2008, Rp8.550 (12 Juni 2008), berarti saham ini sudah anjlok 1.257 persen. Berdasarkan pantauan, berikut perkembangan harga saham BUMI secara bulanan.

- 2 Januari 2012, saham BUMI ditutup di level Rp2.550.
- 1 Februari, ditutup di Rp2.450.
- 1 Maret, ditutup di 2.350.
- 2 April, ditutup di Rp2.205.
- 1 Mei, ditutup di Rp1.420.
- 1 Juni, ditutup di Rp1.110.
- 2 Juli, ditutup di Rp1.040.
- 1 Agustus, ditutup di Rp700.
- 3 September, ditutup di Rp740. (gna)
(rhs)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Pelemahan Rupiah Merangsang Orientasi Pengusaha