BANDA ACEH - Kesejahteraan petani di Aceh makin rendah, hal ini setidaknya terlihat dari Nilai Tukar Petani (NTP) di provinsi terus mengalami penurunan sejak Januari 2012. Pada bulan lalu, NTP Aceh tercatat 103,56 atau turun 0,32 persen dibanding nilai Agustus 2012.
"Kalau dilihat dalam tahun ini dari Januari sampai sekarang NTP terus menurun, pada bulan Februari lalu NTP sebesar 105,05 terus turun sampai sekarang tercatat 103,56," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh Syeh Suhaimi di Banda Aceh, Senin (1/10/2012).
Meski indeks nilai tukarnya terus menurun, Suhaimi menilai, kesejahteraan petani di Aceh masih belum bisa dikatakan terpuruk. "Kalau NTP angkanya masih di atas 100 itu masih tergolong sejahtera," ujarnya.
Secara produksi hasil pertanian di Aceh memang membanggakan. Produksi gabah sendiri terus mengalami surplus, namun minimnya akses pemasaran yang membuat NTP terus terpuruk. Nilai yang diterima petani tidak sesuai dengan pengeluaran.
Suhaimi menyarankan Pemprov Aceh yang baru melalui instansi terkait bisa membuka akses pemasaran sehingga penjualan hasil pertanian lebih tinggi dan menjanjikan bagi para petani. "Pemasaran yang harus dibuka agar harga jual lebih menentukan petani," sebut Suhaimi.
Saat ini pedagang atau agen selalu meraup untung lebih, sementara petani tidak begitu diuntungkan dalam menjual hasil pertanian. Seharusnya perlu perimbangan dalam mendapat kesejahteraan.
Suhaimi menyebutkan pada September 2012, turunnya NTP Aceh pada bulan tersebut disebabkan oleh turunnya nilai tukar pada subsektor hortikultura sebesar 1,14 persen, disusul perkebunan rakyat sebesar 0,99 persen dan perikanan sebesar 0,22 persen.
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.