Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Obligasi Tetap Menarik, Sampai Kapan?

Obligasi Tetap Menarik, Sampai Kapan?
Ilustrasi. (Foto: Okezone)
A
A
A

IDMA index, yang bisa kita dapati dari Bloomberg, menunjukan bahwa rally di obligasi pemerintah berdenominasi rupiah telah terus berlanjut di Febuari ini, dan overall price returns telah mencapai rekor tertingginya.

Di saat yang bersamaan, kita juga bisa melihat bagaimana jumlah investasi portfolio asing kembali naik di Febuari ini. Ini berarti secara per bulan, arus masih investasi portofolio ke pasar obligasi pemerintah telah terus bertahan di level positif sejak September 2012 lalu, bulan keenam berturut-turut.



Apa yang telah menyebabkan hal ini terjadi? Padahal kita perlu mengingat bahwa di periode yang bersamaan, rupiah telah terus tertekan di market dikarenakan neraca perdagangannya yang masih tercatat di defisit, dan kenyataan bahwa kondisi perekonomian dunia sendiri masih begitu-begitu saja?

Salah satu jawaban yang telah menyebabkan tingginya minat investor asing terhadap obligasi pemerintah ini adalah kenyataan bahwa tingkat likuiditas dunia masih tercatat sangat tinggi. Apalagi dengan kebijakan-kebijakan dari bank-bank sentral dunia yang masih terus berkesan accomodative. Kita telah melihat bagaimana total jumlah balance sheet dari bank-bank sentral major (Fed, BOE, ECB dan BOJ) terus meningkat di belakangan ini.

Dikarenakan tingkat risk appetite yang juga masih cenderung mendukung aset-aset yang sebenarnya berisiko tinggi, kita telah melihat bagaimana jumlah likuiditas yang terkesan berlebihan ini telah terus mengejar yield yang lebih tinggi. Obligasi pemerintah Indonesia merupakan salah satu aset yang terus dianggap menarik, apalagi kalau kita catat bahwa tingkat inflasi Indonesia saat ini yang masih sangat rendah, yang berarti real interest rate masih diteritori positif, tidak seperti kebanyakan negara maju saat ini.

Sampai kapan pesta ini akan berlanjut? Untuk memperkirakan perkembangan-perkembangan
yang bisa berpotensi untuk mengubah aksi risk appetite tidaklah mudah. Sedangkan tingkat
likuiditas dunia saat ini juga tampaknya belum akan menurun karena kebijakan bank-bank
sentral yang masih pro-growth.

Jadi menurut kami, faktor yang paling penting untuk kita monitori ke depan adalah tren inflasi dalam negeri. Secara teori, jika inflasi dalam negeri mulai bergerak naik ke atas, untuk mempertahankan tingkat real interest rate yang sama (dan positif mengikuti sejarah), berarti tingkat imbal hasil obligasi pemerintah harus ikut meningkat.

Mengenai hal ini sendiri, kami telah melihat adanya tanda-tanda tekanan underlying inflation mulai meningkat, dikarenakan inflasi di kelompok bahan makanan yang telah kembali naik dan juga adanya berita tentang wacana kenaikan harga LPG (selain kemungkinan kenaikan harga BBM yang masih terus terbuka saat ini).

Perlu dicatat bahwa estimasi kami untuk inflasi 2013 ini masih tetap berada di sekitaran 6-6,5 persen, di atas target pemerintah di 3,5-5,5 persen dan juga rata-rata untuk tahun lalu di 4,3 persen.

Gundy Cahyadi
Ekonom OCBC Bank

(Widi Agustian)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement