>

Saham 'Blue Chips, Second Layer & Third Layer'

|

-

Ilustrasi. (Foto: Okezone)

Saham 'Blue Chips, Second Layer & Third Layer'
Di bursa saham dikenal istilah saham blue chip, second layer dan third layer. Saham blue chip adalah istilah untuk saham unggulan atau saham papan atas. Disebut juga saham berkapitalisasi besar (big cap).
 
Kapitalisasi Pasar  menjadi acuan untuk menetapkan saham blue chips. Setiap saham bisa dihitung kapitalisasi pasarnya dengan mengalikan harga saham dengan jumlah saham yang beredar di pasar. Suatu saham yang berkapitalisasi besar biasanya lebih likuid atau mudah diperjualbelikan di bursa. Saham-saham dengan kapitalisasi pasar terbesarlah yang menjadi saham blue chip.
 
Di Bursa Efek Indonesia, 45 saham emiten yang masuk dalam index LQ45 adalah termasuk saham blue chips.  Empat puluh lima saham dalam LQ45  terpilih  berdasarkan kapitalisasi pasar dan likuiditas perdagangan saham. Saham-saham yang masuk dalam perhitungan index LQ45 dievaluasi dan disesuaikan setiap enam bulan (setiap awal bulan Februari dan Agustus).  
 
Selain berkapitalisasi besar, saham-saham yang tergolong blue chip adalah saham perusahaan dengan kinerja dan fundamental yang baik, dikelola dengan profesional, bergerak di bidang industri yang dibutuhkan banyak orang, mencatatkan nilai penjualan dan  keuntungan yang besar, dan rutin membagikan dividen.  
 
Saham second layer atau saham lapis kedua adalah saham yang tidak selikuid saham yang masuk dalam index LQ45. Umumnya perusahaan-perusahaan menengah (medium cap) yang ada di kelompok saham lapis kedua.   Pergerakan harga saham lapis kedua biasanya berfluktuatif dan fundamental perusahaan cukup baik, tetapi masih dalam tahap prospek berkembang. 
 
Sementara saham lapis ketiga  (third layer) adalah jenis saham yang  memiliki likuiditas dan kapitalisasi pasar yang kecil, yaitu dibawah Rp1 triliun. Jenis saham ini juga sering dikenal sebagai saham tidur dan sedikit orang yang memilikinya. Tetapi karena suatu saat perusahaan di lapis ketiga ini akan bertumbuh atau melakukan corporate action misal diakuisisi atau mendapatkan suntikan dana investasi, sewaktu-waktu kinerjanya akan bertumbuh.
 
Saham blue chip, karena tingkat likuiditasnya yang tinggi akan  mempermudah investor untuk membeli dan menjual saham tersebut. Tetapi belum tentu saham  dengan fundamental yang bagus memiliki likuiditas yang tinggi. Ada beberapa saham dengan fundamental bagus tidak likuid karena investor umumnya memegang saham ini untuk jangka waktu panjang.
 
Ada pula yang disebut saham musiman (cyclical stock). Ini adalah jenis saham yang bergerak aktif apabila ada peristiwa tententu. Peristiwa yang bisa mempengaruhi misalnya peristiwa politik, ekonomi, hari raya keagamaan, dan masa liburan. Saham yang bergerak di sektor pariwisata misalnya, akan bergerak naik pada masa liburan. (Tim BEI)
(mrt)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Pertumbuhan Ekonomi Cenderung Stagnan di 5,33%