Aneka Sampah Bisa Jadi Bahan Pengganti Solar

Kamis, 25 April 2013 09:35 wib | Mukhtar Bagus - Sindo TV

JOMBANG - Jerami, daun tebu, tongkol jagung atau ilalang selama ini hanya terbuang percuma dan tidak pernah dimanfaatkan. Namun di tangan seorang pria kreatif dari Jombang, Jawa Timur, sampah-sampah tersebut ternyata bisa diolah menjadi bahan bakar alternatif pengganti solar dan bensin. 

Seperti apa proses pembuatan bio diesel dari bahan sampah tersebut? Berikut adalah hasil karya Arif Wibowo. Setiap ada cobaan atau masalah pasti ada jalan keluarnya. Seperti yang dilakukan Arif Wibowo warga Desa Kaliwungu, Jombang, Jawa Timur.
 
Setelah beberapa tahun melakukan penelitian dan ujicoba, penerima penghargaan guru teladan nasional dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) 2008 ini, berhasil menyulap aneka sampah menjadi bio premium dan bio diesel pengganti solar.
 
Arif mengaku tidak berani mengklaim hasil kreatifitasnya ini sebagai penemuan baru, sebab menurutnya diluar negeri bio diesel dan bio premium sudah marak digunakan masyarakat.
 
Kepada siapa saja Arif sangat terbuka membeberkan rahasia bagaimana mengolah sampah menjadi bio premium dan bio diesel. Menurut Arif bio premium dan bio diesel di buat dengan bahan yang sangat melimpah di sekitar seperti rumput gajah, jerami (bekas batang padi), ilalang, batang jagung, tongkol jagung, daun tebu, enceng gondok, biji jarak, buah bintaro, atau rumput-rumputan sampah lainnya.

Arif membeberkan, proses pembuatannya juga sangat mudah, pertama rumput di haluskan terlebih dahulu dengan menggunakan mesin penggiling, setelah itu masukkan ke dalam wadah khusus dan campuri dengan jamur ragi (sacharomyces cerevice).

Jika sudah diaduk hingga rata, fragmentasikan campuran rumput, air dan jamur ragi ini ke dalam wadah tertutup selama 14 hari. Setelah itu, lakukan proses destilasi (pemisahan air dengan minyak) dengan alat yang dirancang secara khusus.
 
"Dengan cara sederhana ini kita akan mendapatkan bio etanol yang selanjutnya dapat di proses lagi menjadi bio premium ataupun bio solar," ujar Arif sambil mempraktekan pemanfaatan sampah menjadi bio premium ataupun bio solar, Kamis (25/4/2013).

"Untuk membuktikannya, kita juga bisa langsung mencoba menggunakan bio premium tersebut pada sepeda motor. Sementara bio diesel atau bio solar dapat langsung kita coba untuk menghidupkan mesin diesel," tambahnya.

Terhadap hasil kreatifitasnya tersebut, Arif mengaku akan membuka diri jika pemerintah berminat mengembangkannya. Namun jika tidak, Arif mengaku akan tetap mengembangkan bio premium dan bio solar ini dengan cara bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar sejumlah pabrik atau perusahaan swasta.
 
Sebab dibandingkan dengan bio solar non subsidi milik Pertamina, bio solar buatan Arif jauh lebih murah (hanya dijual Rp6.000 per liter sementara solar non subsidi milik pertamina dijual Rp10.600 per liter).
 
Demikian juga dengan bio premium milik Arif juga dijual jauh lebih murah dari harga pertamax. Jika pemerintah nantinya menaikkan harga solar subsidi menjadi Rp6.500 per liter berarti solar buatan Arif ini masih lebih murah.
 
Padahal menurut Arif, kualitas bio solar maupun bio diesel dari bahan sampah yang ramah lingkungan ini jauh lebih baik, diantaranya emisi gas buangnya lebih rendah dan perawatan mesin menjadi lebih terukur. (wan) (Mukhtar Bagus/Sindo TV/wdi)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »