HARUS diakui, tidak mudah untuk membuat keseimbangan antara kepentingan jangka pendek dan jangka panjang. Yang lazim dan sering terjadi biasanya adalah mengorbankan kepentingan jangka panjang untuk menjaga kepentingan jangka pendek, dan sebaliknya mengorbankan kepentingan jangka pendek untuk kepentingan jangka panjang.
Perusahaan kecil dan menengah akan cenderung mengutamakan kepentingan jangka pendek untuk bertahan menyambung hidup (survival) sedangkan perusahaan besar akan lebih memilih untuk mengutamakan kepentingan jangka panjang demi perkembangan dan perluasan. Perusahaan publik yang hanya memperhatikan kepentingan jangka pendek tidak disukai oleh investor.
Kepentingan jangka pendek berhubungan dengan cash-flow dan profit sementara kepentingan jangka panjang berhubungan dengan investasi, perluasan dan perkembangan dan shareholder value (nilai/harga saham). Yang satu ibarat pertempuran dan yang lain ibarat peperangan. Bisa saja kalah dalam satu dua pertempuran akan tetapi menang dalam peperangan.
McKinsey pernah melakukan survei terhadap sekitar 300 perusahaan yang masuk dalam daftar SP 500 (Standard & Poor’s) atas kinerja mereka selama 20 tahun dari tahun 1984-2004 dan memperoleh gambaran yang dimasukkan ke dalam kuadran: Kuadran pertama, low shortterm- low long-term. Ada 30 persen jumlah perusahaan dalam kuadran ini dengan tingkat daya tahan (survival rate) rata-rata 57 persen dan tingkat pengembalian kepada para pemegang saham (TRS/total return to shareholders) rata-rata 9,1 persen saja.
Kuadran kedua, low shortterm- high long-term. Ada 18 persen jumlah perusahaan dalam kuadran ini dengan tingkat daya tahan rata-rata 72 persen dan tingkat pengembalian kepada pemegang saham rata-rata 15,6 persen. Kuadran ketiga, low longterm- high short term. Ada 28 persen jumlah perusahaan dalam kuadran ini dengan tingkat daya tahan rata-rata 64 persen dan tingkat pengembalian kepada pemegang saham rata-rata 14,2 persen.
Kuadran keempat. High long-term-high short term. Ada 24 persen jumlah perusahaan dalam kuadran ini dengan tingkat daya tahan rata-rata 73 persen dan tingkat pengembalian kepada saham rata-rata 18,3 persen. Sekalipun jumlahnya tidak cukup signifikan hanya sekitar seperempatnya, akan tetapi dapat diambil kesimpulan bahwa perusahaan yang berhasil menjaga keseimbangan memiliki daya tahan yang lebih kuat dan mempunyai kemampuan untuk berkembang lebih baik dibandingkan dengan perusahaan yang mementingkan salah satu.
Kesimpulan lain adalah bahwa perusahaan yang tidak cukup menjaga kepentingan jangka pendek maupun jangka panjang mempunyai kinerja paling rendah. Perusahaan yang lebih mengutamakan kepentingan jangka panjang lebih memperlihatkan tingkat pengembalian kepada pemegang saham (TRS) lebih tinggi.
Perusahaan yang lebih mengutamakan kepentingan jangka pendek, yang logikanya lebih fokus terhadap situasi bertahan malahan menunjukkan kinerja yang lebih rendah baik dalam tingkat pengembalian pemegang saham (TRS) maupun dalam bertahan. Lingkungan dan situasi perusahaan dari satu ke perusahaan tentunya berbeda. Tidak ada formula standar yang dapat diberlakukan terhadap semua perusahaan, termasuk budaya, karakter pimpinan dan pemilik perusahaan.
Tidak ada formula standar bagaimana kita berhasil membuat keseimbangan antara kepentingan jangka pendek dan jangka panjang sekaligus, oleh karena itu yang dapat kita bicarakan adalah prinsip umum yang mencakup beberapa hal. Pertama, milikilah rencana jangka panjang lima sampai sepuluh tahun ke depan.
A good business, challenging but achievable plan. Kedua, buatlah cash-flow yang lebih rinci dan mengakomodasi situasi terburuk, dan juga memperhitungkan sumber internal maupun eksternal. A through finance plan. Ketiga, profit adalah basis dan tiang penunjang dari pertumbuhan jangka panjang, jangan tergoda mengorbankannya hanya untuk mempertahankan penjualan.
Keempat, investasi adalah untuk kepentingan jangka panjang, jangan tergoda untuk membelanjakan sebelum waktunya untuk hal lain. Kelima, memegang prinsip tidak mengorbankan salah satu, untuk kepentingan jangka pendek mengorbankan untuk kepentingan jangka panjang, dan sebaliknya, akan tetapi memegang prinsip bagaimana menyelamatkan keduanya dalam setiap keputusan.
Terasa sulit? Tidak perlu berkecil hati, terbukti dari survei McKinsey di atas hanya seperempat saja yang berhasil menjaga keduanya, namun jika ada tekad dan kemauan serta perencanaan yang matang ternyata bisa dengan hasil parameter yang jelas. Maju terus dan sukses!
ELIEZER H. HARDJO PH.D.CM
Anggota Dewan Juri ReBi &
Institute of Certified Professional Managers
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.