>

IPO, Dharma Satya Tawarkan Harga Rp1.780-Rp2.150/Saham

|

Rizkie Fauzian - Okezone

Ilustrasi. (Foto: Reuters)

IPO, Dharma Satya Tawarkan Harga Rp1.780-Rp2.150/Saham
JAKARTA - PT Dharma Satya Nusantara, perusahaan yang bergerak di bidang usaha pengolahan kelapa sawit, perkebunan kelapa sawit dan pengolahan kayu berencana melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO). Harga yang ditawarkan berada pada kisaran Rp1.780-Rp2.150 per lembar.

Menurut Direktur Utama Dharma Satya, Djojo Boentoro, jumlah saham yang akan dilepas sebanyak 500 juta saham baru atau setara 21,32 persen dari modal disetor setelah IPO, dengan nilai nominal sebesar Rp100 per saham.

"Dana IPO tersebut akan digunakan untuk kegiatan perseroan antara lain, 50 persen digunakan untuk kegiatan penanaman baru dan konstruksi pabrik baru di Muara Wahau," katanya dalam due deligence & Public Expose, di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (8/5/2013).

Sementara, 30 persennya akan digunakan untuk pembayaran sebagian pinjaman bank. "Sekitar 10 persen untuk relokasi pabrik pengolahan kayu, dan sisanya akan digunakan untuk modal kerja Perseroan," jelas dia.

Rencananya, penawaran umum perdana saham akan dilakukan pada 31 Mei dan 3 Juni 2013. Kemudian, dilanjutkan dengan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 Juni 2013. Guna memperlancar IPO, perseroan telah menunjuk PT Ciptadana Securities dan PT BCA Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi.

Sekadar informasi, saat ini perseroan memiliki cadangan lahan mencapai 181.104 hektare dengan total area tertanam sekitar 61.052 hektare. Dengan catatan produksi yang ada, Perseroan merupakan salah satu perusahaan yang terdepan di industrinya untuk hasil TBS dan OER.

Hasil produksi TBS Perseroan mencapai 22,9 ton per hektare, sementara OER stabil di level 24 persen selama tiga tahun terakhir, melampaui perusahaan sejenis di Indonesia dan Malaysia. (mrt)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Alasan RI Masih Ketergantungan Impor Energi