DEPOK - Rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) dinilai dapat memajukan Indonesia dari sektor perekonomian dengan mengundang banyaknya investor. Namun pembangunan JSS juga dkhawatirkan dapat menimbulkan ketimpangan sosial ekonomi di wilayah Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur.
Hal itu diungkapkan oleh Pengamat Politik dan Kebijakan Publik Universitas Indonesia (UI) Andrinof Chaniago. Menurutnya, Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi (MP3EI) MP3EI juga dinilai berbahaya.
"MP3EI itu pengulangan orde baru, berbahaya. Selain itu, JSS itu juga bisa membuat Indonesia timpang, kalau Kalimantan sudah dibangun, Indonesia Timur sudah dibangun silahkan dibangun JSS enggak apa-apa. Agar terhindar dari krisis kedua," tukasnya dalam acara Bedah Buku Andrinof, “Gagalnya Pembangunan: Membaca Ulang Keruntuhan Orde Baru”, di Kampus UI, Depok.
Ketimpangan tersebut, kata dia, akan berdampak buruk pada perilaku sosial. Banyaknya konflik horizontal, lanjutnya, menjadi tanda-tanda zaman sebagai gejala ketimpangan di Indonesia.
"Prilaku sosial terulang lagi nanti 1998. Tanda-tanda zaman enggak stabil. Jangan memonopoli wacana. Lebih bahayanya setelah orde baru. Tingkat amuk massa makin tinggi, konflik, perang antar kampung di kota. Ini harus kita perhatikan. Investor enggak akan mau masuk, enggak akan mau datang. Dengan Indonesia yang indah alamnya kata lagu-lagu wajib, tetapi Jumlah wismannya di Indonesia cuma 7 juta. Padahal Singapura 15 juta, Malaysia 25 juta," tegasnya.
Hal senada dituturkan oleh Dosen Departemen Sosiologi UI Francisia Ery Seda. Ia menilai, era reformasi, justru lebih liberal baik politik maupun ekonominya.
"Dari politik, pembangunan liberalisasi politik luar biasa. Ekonominya makin liberal. Terlepas dari jargon di luar. Ekonominya makin lama makin liberal. Saya kurang setuju pihak-pihak yang mengagung-agungkan pembangunan RRC," tandasnya.
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.