JAKARTA - Kunjungan kerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Amerika Serikat (AS) dilakukan terkait dengan kedudukannya selaku Co-Chairs dalam Panel Tingkat Tinggi PBB Mengenai Agenda Pembangunan Pasca 2015 (UN High-Level Panel of Eminent Persons on the Post-2015 Development Agenda), yang akan mengadakan pertemuan ke lima di Markas Besar PBB di New York pada 29-30 Mei 2013.
"Pertemuan ini merupakan pertemuan Panel Tingkat Tinggi yang terakhir setelah empat pertemuan sebelumnya, masing-masing di New York, AS (September 2012), London, Inggris (November 2012), Monrovia, Liberia (Februari 2013), dan Bali, Indonesia (Maret 2013),” ungkap Staf Khusus Presiden bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah, seperti dilansir dari laman Setkab, Sabtu (25/5/2013).
Pertemuan ke lima Panel Tingkat Tinggi, menurut Faizasyah, akan dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku salah satu Ketua Bersama (Co-Chairs) Panel. Agenda utama dari pertemuan ke lima Panel tersebut adalah pengesahan Laporan Panel. Setelah disahkan, Laporan tersebut selanjutnya akan diserahkan oleh Presiden Yudhoyono atas nama Ketua Bersama dan Anggota Panel kepada Sekjen PBB Ban Ki-moon.
“Presiden Yudhoyono juga akan menyampaikan briefing kepada para anggota PBB di forum Majelis Umum PBB terkait Laporan Panel tersebut. Sebagai langkah selanjutnya, Sekjen PBB akan mensirkulasikan Laporan Panel tersebut kepada seluruh anggota PBB untuk dibahas melalui inter-governmental process di Sidang Majelis Umum PBB ke-68 (2013-2014),” kata dia.
Menurut Faizasyah, dengan disahkannya Laporan Panel tersebut, Panel Tingkat Tinggi telah memenuhi mandatnya dalam membantu Sekjen PBB menyiapkan visi agenda pembangunan pasca 2015. Di bawah kepemimpinan Tiga Ketua Bersama (Presiden RI, Presiden Liberia dan Perdana Menteri Inggris), selama hampir satu tahun Panel telah melakukan diskusi dan konsultasi yang luas dalam menyiapkan Laporan Panel tersebut.
“Mandat yang diamanahkan kepada Presiden Yudhoyono selaku salah satu Ketua Bersama Panel oleh Sekjen PBB mencerminkan kepercayaan yang besar dari masyarakat internasional atas peran dan kepemimpinan Presiden Yudhoyono dalam memajukan Indonesia,” ujarnya.
Dia menyebutkan, pembahasan substansi agenda pembangunan pasca 2015 selama hampir satu tahun, Indonesia telah memberikan warna terhadap substansi agenda tersebut, khususnya terkait konsepsi sustainable development dan sustainable growth with equity. Sebagai negara yang rentan terhadap bencana alam, Indonesia juga telah menyuarakan pentingnya individual and national resilience dalam konteks sustainable development.
Seperti halnya MDGs yang terbukti telah menjadi policy tool dan roadmap efektif bagi negara-negara dalam mencapai kemajuan di bidang pembangunan nasional, serta dalam mencapai kesejahteraan bersama di tingkat global, menurut Teuku Faizasyah, agenda pembangunan pasca 2015 yang dituangkan dalam Laporan Panel tersebut diharapkan dapat membantu dan memandu negara-negara di dunia dalam menetapkan prioritas pembangunannya untuk jangka waktu 15-20 ke depan setelah tahun 2015.
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.