Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menkeu Bantah Orang Miskin Semakin Miskin

Dina Mirayanti Hutauruk , Jurnalis-Jum'at, 31 Mei 2013 |16:08 WIB
 Menkeu Bantah Orang Miskin Semakin Miskin
Ilustrasi. (Foto: Koran SINDO)
A
A
A

JAKARTA - Survei yang dilakukan Harvard University menyatakan kesenjangan pendapatan antara masyarakat miskin dengan masyarakat yang kaya semakin meningkat. Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, koefisien kensenjangan memang meningkat dari 0,38 persen menjadi 0,41 persen. Namun, dia belum dapat memastikan apa penyebab kesenjangan tersebut.

"Pertanyaannya, apakah ketimpangan ini terjadi karena yang kaya makin kaya, dan yang miskin menjadi miskin, itu saja," kata dia, di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (31/5/13).

Chatib mengatakan, isu yang miskin semakin miskin tidak benar, karena berdasarkan data National Socioeconomic Survey (Susenas) yang dia peroleh, semua kelas mengalami peningkatan pendapatan.

"Kebetulan saya pernah lihat data Susenas-nya, karena waktu di DPR yang ditanyakan itu. Ternyata semua kelas pendapatan mengalami peningkatan income. Jadi yang miskin makin miskin itu enggak betul," tuturnya.

Menurutnya, yang terjadi adalah kelompok atas tumbuhnya jauh lebih cepat dari kelompok yang bawah karena perbedaan komoditas. "Sementara di kelompok pendapatan terbawah naik, tapi sekitar 2 persen, sementara yang di atas sekitar 7 persen, akibatnya ketimpangan terjadi," tuturnya.

Oleh karena itu, dia mengungkapkan perlu diperhatikan struktur pajak dan upaya-upaya retribusi. Menurutnya, salah satu hal untuk memperbaiki retribusi adalah dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

"Kalau bicara retribusi, saya senang bicara ini. Salah satunya untuk memperbaiki koefisien maka subsidi BBM harus turun. Karena kalau subsidi diturunkan yang terpukul yang konsumsi di atas, uangnya dikasih ke bawah. Jadi dengan begitu koefisien gininya lebih baik," tukas dia.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement