JAKARTA - Adanya keputusan pemerintah untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi diperkirakan hal ini akan berdampak negatif, yakni meningkatkan biaya produksi industri di Tanah Air.
Demikian hal tersebut disampaikan oleh Menteri Perindustrian MS Hidayat usai mengisi pidatonya saat breakfast meeting dengan delgasi PM Papua Nugini, di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Selasa (18/6/2013).
"Untuk kenaikan biaya perindustrian itu ada kira-kira 1,2 persenan. Namun kenaikan inikan sifatnya hanya sementara," ujarnya.
Ia mengatakan, dampak yang sementara itu diperkirakan hanya 2-3 minggu saja pada kenaikan biaya produksi Industri. "Iya ini hanya hanya sementara saja. Inikan hitungan Kementrian Perindustrian," tukasnya.
Hidayat menegaskan, bahwa nantinya kalangan industri supaya bisa menyesuaikan dengan kondisi ini yakni dengan meningkatkan kegiatan produksi lagi. Sementara untuk sektor industri yang paling terkena dampaknya ialah industri tekstil. "Itu mereka akan kena biaya produksi yang meningkat hingga 1,54 persen,” jelas dia.
Sebelumnya, rapat paripurna memutuskan untuk menyetujui APBNP terkait dengan kenaikan harga BBM bersubsidi. Yakni pada bensin premium yang sebelumnya di harga Rp4.500 menjadi Rp6.500, sementara pada solar yang sebelumnya Rp4.500 menjadi Rp5.500.
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.