DEPOK - Belum juga harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dinaikkan, namun harga kebutuhan pokok sudah melambung tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) menilai hal itu disebabkan efek psikologis yang berdampak pada semua sisi.
"Semua kena, ada efek psikologis. Logikanya di mana BBM belum naik kok harga sembako naik. Alasannya BBM mau naik, mana bisa begitu kan, tetapi ini nyata terjadi di masyarakat, karena itu harusnya pemerintah bisa mengintervensi kenaikan harga," ujar Kepala TU BPS Kota Depok Bambang Pamungkas, Kamis (20/6/2013).
Namun Bambang menilai, kenaikan harga BBM tepat dinaikkan sebelum puasa. Sebab, kata dia, harga kebutuhan pokok memang biasa naik setiap bulan puasa dan Lebaran.
"Puasa lebih mending, lebih baik dinaikkan sebelum puasa, karena harga-harga memang pasti naik pas puasa, karyawan saja minta THR, wajar lah pedagang juga menaikkan harga, paling inflasi hancur dua persen, setelah itu turun lagi. Asalkan, pemerintah menjamin setelah Lebaran, harga harus kembali normal," tegasnya.
Bambang mengakui, saat ini masyarakat akan kesulitan beradaptasi dengan kenaikan harga BBM. Namun ia menyebutkan bahwa subsidi BBM yang paling banyak menikmati adalah kalangan menengah atas.
"Secara nasional sumber Kemenkeu, subsidi BBM yang paling banyak, pemilik mobil jelas 53 persen, motor hanya 47 persen. Jawa-Bali 59 persen konsumsi, di luar Jawa Bali 41 persen. Kebanyakan dinikmati rumah tangga berpenghasilan tinggi," ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa rakyat jangan selalu dimanjakan dengan subsidi BBM yang salah sasaran. Kenaikan harga BBM, kata dia, mengalihkan anggaran untuk menunjang fasilitas bagi rakyat.
"Tetapi memang subsidi jangan bahan bakarnya, tetapi ada kompensasi misalnya untuk angkutan bensinnya, atau misalnya dengan suku cadang, atau diperbaiki jalannya dan infrastrukturnya," tutupnya. (wan)
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.