Memantau Perkembangan Saham Lewat IHSG

\Memantau Perkembangan Saham Lewat IHSG\
Ilustrasi : Okezone

JAKARTA - Ada cara mudah untuk mengetahui kondisi pasar saham atau performa harga saham-saham di bursa efek. Investor dan masyarakat umum dapat melihatnya melalui indeks harga saham.

Jika indeks harga bergerak naik, menandakan rata-rata harga saham mengalami kenaikan harga. Sebaliknya, jika indeks harga turun, menunjukkan rata-rata harga saham mengalami koreksi atau penurunan harga. Indeks harga saham yang digunakan untuk melihat performa harga seluruh saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang dalam bahasa Inggris disebut Indonesia Composite Index atau IDX Composite .

Setiap bursa efek di dunia juga memiliki indeks harga saham yang dijadikan indikator utama pergerakan harga saham-sahamnya. Beberapa indeks harga saham yang terkenal dan menjadi tolok ukur pasar modal dunia antara lain Dow Jones Industrial Average (DJIA) di New York Stock Exhange, FTSE 100 di London Stock Exchange dan Nikkei 225 di Japan Exhange.

IHSG menghitung pergerakan harga seluruh saham biasa dan saham preferen yang tercatat di BEI. Saat diperkenalkan pertama kali pada 1 April 1983, IHSG baru menghitung 13 saham yang ada di BEI. Hari dasar untuk penghitungan IHSG adalah tanggal 10 Agustus 1982, di mana hari itu menjadi titik nol (awal perhitungan indeks) dengan nilai dasar IHSG 100. Saat ini IHSG BEI berada di kisaran angka 5.300 dengan jumlah saham lebih dari 500.

Penghitungan IHSG merepresentasikan pergerakan harga saham di pasar atau bursa yang terjadi melalui sistem perdagangan lelang berkelanjutan. Harga saham yang digunakan dalam menghitung IHSG adalah harga saham yang terjadi dari transaksi di pasar reguler.

IHSG akan dilakukan penyesuaian apabila terjadi pencatatan saham baru (IPO), delisting saham, atau aksi korporasi seperti right issue , konversi waran, obligasi konversi, stock split , reverse stock split , dan pembagian dividen dalam bentuk saham.

Penghitungan IHSG dilakukan secara real time dan bisa diakses di berbagai media seperti website BEI, sejumlah jasa penyedia data yang menyajikan informasi perdagangan saham, baik melalui akses berlangganan atau akses khusus investor sebagai nasabah perusahaan efek. IHSG bisa dilihat pula di website berbagai media massa atau secara langsung di papan perdagangan yang ada di galeri BEI serta galeri-galeri perusahaan efek.

Selain IHSG, ada pula indikator indeks saham lain yang bisa dijadikan rujukan oleh investor untuk berinvestasi di BEI. Ada 10 indeks sektoral berdasarkan pengelompokan saham-saham ke dalam sektor bisnisnya masing-masing. Sepuluh indeks sektoral itu adalah indeks sektor pertanian, pertambangan, properti dan konstruksi, infrastruktur, keuangan, serta perdagangan dan jasa.

Selain itu terdapat pula indeks sektor aneka industri, industri dasar dan kimia, serta industri barang konsumen di mana tiga indeks sektoral ini dirangkum oleh indeks sektor manufaktur. BEI juga menyajikan 15 indeks lain yaitu Indeks LQ45 yang menghitung pergerakan harga 45 saham blue chips (saham likuid yang berkapitalisasi besar) dan IDX30 yang menghitung pergerakan 30 saham paling likuid di antara saham-saham LQ45.

Untuk investor yang ingin mengetahui performa saham- saham syariah, BEI menyediakan Indeks Harga Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan JII (Jakarta Islamic Index). Beberapa media massa ikut mengeluarkan indeks harga saham yaitu Kompas100, Investor33, infobank15 (berisi 15 saham bank), Bisnis27, dan MNC36. Selain itu ada juga Indeks Pefindo25, SMinfra18, SRI-Kehati, ISSI, Indeks Papan Utama, dan Indeks Papan Pengembangan.

Investor bisa menggunakan referensi berbagai indeks tersebut sesuai kebutuhan masing-masing. Secara berkala setiap indeks akan dievaluasi untuk mengganti konstituen saham apabila tidak lagi sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan masing-masing indeks. Umumnya evaluasi dilakukan setahun dua kali untuk memastikan sejumlah saham yang ada dalam perhitungan setiap indeks masih memenuhi kriteria pengukuran.

(rai)