Kenaikan Saldo Uang Elektronik Dapat Picu Adanya Money Laundering

\Kenaikan Saldo Uang Elektronik Dapat Picu Adanya Money Laundering\
Ilustrasi: (Foto: Okezone)

TANJUNG PANDAN - Bank Indonesia (BI) berencana menaikkan batas maksimum saldo e-money dari Rp5 juta menjadi Rp10 juta. Aturan ini rencananya akan dikeluarkan dalam bentuk PBI (Peraturan Bank Indonesia).

Corporate Secretary Bank Mandiri, Rohan Nafas mengatakan, saat ini rencana tersebut masih berada pada tahap pembahasan. Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan, di antaranya adalah mengenai penggunaan sehari-hari e-money oleh masyarakat.

"Itu sebelumnya harus kerja bersamaan antara menambah merchant. Kalau Rp1 juta ke atas sudah banyak dipakai di hotel restoran, kalau Rp1 juta ke bawah kan banyak yang dipakai di tol atau Transjakarta dan sebagainya. Jadi kalau Rp10 juta kapan orang ber-switching tergantung penambahan merchant-nya," ujar Rohan di Belitung, Jumat (23/9/2016).

Namun, rencana ini dikhawatirkan akan berdampak timbulnya praktik pencucian uang. Sebab, hanya dengan membeli kartu e-money dan mengisinya hingga Rp10 juta, praktik pencucian uang bisa saja dilakukan.

Namun, praktik pencucian uang ini tidak perlu dirisaukan. Sebab, perbankan akan mengawasi ketat penggunaan e-money apabila batas limit tetap dinaikkan.

"Saya mungkin lebih pro untuk money laundering. Karena Rp5 (juta) sampai Rp10 juta Anda beli sebanyak-banyaknya kartu itu dengan maksimum untuk money laundering. Tapi Anda teregister karena dia tidak tunai. Dibawa ke mana uang itu jelas, tracking-nya jelas," tutupnya.

(dni)