Belum Ada Kota yang Menyandang Smart City di Indonesia

\Belum Ada Kota yang Menyandang Smart City di Indonesia\
Ilustrasi: Shutterstock

MAGELANG – Meski ada sejumlah daerah yang mengklaim sebagai smart city, hingga saat ini di Indonesia belum ada kota/kabupaten yang menyandang status tersebut. Pemrakarsa Smart City Indonesia Prof Dr Suhono Harso Supangkat mengatakan, upaya daerah itu baru pada tahap menuju smart city.

“Jadi yang benar-benar sudah berstatus smart city ini sampai kini belum ada,” ungkapnya usai menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Kolaborasi pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan industri menuju Smart and Sustainable City di Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang.

Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) lebih jauh mengatakan, pada tahun lalu bersama salah satu media massa nasional melakukan pengukuran indikator pencapaian smart city. Jika nilainya yang dicapai di atas 80 baru smart. Namun demikian, dari pengukuran tersebut rata-rata berada di bawah 60. (Baca juga: Yogyakarta Kembangkan Smart City Berbasis Budaya)

“Sudah ada sejumlah daerah yang menuju ke smart city seperti Surabaya, Bandung, Tangerang, Bekasi, Bogor, Tangerang Selatan, dan Kota Magelang. Kalau di luar Jawa, seperti Pontianak, Makassar, dan lain-lainnya menuju. Ukurannya, semua pingin smart city,” kata dia.

Untuk mencapai smart city ada sejumlah kriteria. Kriteria tersebut, antara lain bagaimana kesiapan orangnya, regulasi, teknologi, infrastruktur untuk ke arah sosial, pasar, pengelolaan sampah, energi, air, dan sebagainya. Kemudian yang tidak kalah penting terhadap per sepsi warga. “Enggak banjir, enggak ada sampah, enggak ada pengangguran, dan enggak boleh macet,” ujar dia.

Adapun untuk inti dari smart city, katanya, membuat masyarakat bahagia. Namun jika hanya memasang teknologi itu bukan smart city . Selain itu, yang terpenting dilakukan mengusahakan agar teknologi, tata kelola dan orang siap. Menu rutnya, tidak ada membangun smart city dalam kurun waktu 5-10 tahun.

“Baru klaim-klaiman, saya pernah mengukur tahun lalu, kalau di atas 80 baru smart , tapi baru rata-rata di bawah 60. Mudah-mudahan semua menuju dalam tujuan yang benar,” ujar nya.

Adapun pembicara lain dalam seminar nasional tersebut Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito, Sekretaris Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristek Dikti Prof Sutrisna Wibawa, Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Komputer Indonesia (Aptikom) Prof Zaenal Arifin Hasibuan (guru besar UI), dan GM Commercial & Development PT Jababeka Infra struktur Endy A Budyanto (pengembang Smart City Nasional). (Baca juga: Smart City Bisa Ciptakan Efisiensi Bagi Masyarakat)

“Smart city adalah sebuah konsep kota cerdas/pintar yang membantu masyarakat yang berada di dalamnya dengan mengelola sumber daya yang ada secara efisien dan memberikan informasi yang tepat kepada masya ra kat/ lembaga dalam melakukan kegiatan,” kata Sigit.

Sementara untuk kota cerdas, katanya, kota cerdas tidak hanya melulu terkait masalah konektivitas, kemudahan mobilitas, dan berbasis teknologi. “Kota cerdas adalah menyangkut bagaimana warganya bahagia tinggal dan berkegiatan di kotanya,” ujarnya.

(rzk)