BANDUNG - Sebanyak 80% atau sekitar 48.000 dari 60.000 nelayan kecil yang ada di Jabar terancam tidak melaut akibat kenaikan harga BBM yang berpotensi menimbulkan penurunan produktivitas laut di Jabar.
Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Jabar Darsono mengatakan, karena kenaikan BBM tersebut Jabar berpeluang kehilangan 180.000 ton produksi ikan pada 2008 ini. Bahkan angka tersebut akan semakin meningkat jika tidak ada solusi yang bisa mengatasi masalah ini.
"Jangankan 48.000, kalau setengahnya saja tidak melaut sampai akhir 2008 ini, kemungkinan besar akan mengurangi 30% produksi ikan tahun ini. Apalagi jika 80% nelayan yang tadi terancam tidak melaut benar-benar tidak menghasilkan tangkapan ikan," kata Darsono seusai menghadiri acara Pengarahan Gubernur Jawa Barat, di Ruang Rapat Paripurna DPRD Jabar, Jalan Diponogoro, Kota Bandung, Senin (16/6/2008).
Untuk menghindari hal tersebut, lanjut Darsono, Diskan Jabar sudah meminta pepada Koperasi Unit Desa (KUD) Mina di tiap-tiap kabupaten/kota untuk segera mencairkan dana paceklik.
Dana paceklik atau dana kesejahteraan nelayan itu bertujuan untuk meringankan beban nelayan di Jabar. Diskan tidak ingin produksi ikan sampai berkurang karena masalah BBM tersebut. "Dana tersebut juga diatur dalam Perda No 25/2005 tentang dana paceklik utnuk nelayan. Dalam KUD Mina itu ada simpanan nelayan yang bertujuan untuk meringankan beban mereka. Kami berharap dana ini bisa dicairkan dan proses pencairannya bisa berjalan cepat," lanjut Darsono.
Selain pencairan dana paceklik, Diskan juga berupaya mendorong nelayan untuk melakukan diversifikasi usaha dari menangkap menjadi membudidayakan beberapa jenis ternak seperti kerang hijau, rumput laut, dan lele sebagai sebuah solusi menyikapi mahalnya ongkos melaut.
Beberapa daerah di Jabar, ujar Darsono, sudah menerapkan sistem diversifikasi ini. Kabupaten Cirebon yang memproduksi kerang hijau misalnya, daerah ini sudah mampu menghasilkan kerang hijau sebanyak 7.500 ton/tahun.
Diversifikasi juga sudah dilakukan nelayan di Indramayu untuk komoditas kerang hijau walaupun perkembangannya belum pesat seperti di Kabupaten Cirebon. Sementara beberapa daerah lain seperti Karawang, Subang, dan Bekasi memproduksi rumput laut dan lele.
(Nurfajri Budi Nugroho)