JAKARTA - Nilai tukar rupiah sedikit mengalami pelemahan sebagai korelasi pelemahan di pasar saham. Namun, koreksi tercatat tidak terlalu signifikan.
Rupiah pada perdagangan Rabu (29/7/2009) berada di level Rp9.998-Rp9.968 per USD atau melemah dibanding perdagangan sebelumnya di level Rp9.940 per USD.
Rupiah mengalami pelemahan akibat aksi ambil untung, setelah belakangan ini menguat tajam. Hal ini juga terjadi di pasar modal, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 11,293 poin atau setara 0,5 persen ke posisi 2.225,812.
Di pasar valuta, dolar melakukan rebound di sesi perdagangan Selasa 28 Juli dari level terendah tahun ini terhadap basket currencies. Hal ini juga yang menyebabkan rupiah melemah.
Menurut Valbury Securities, penguatan dolar Amerika karena merosotnya consumer confidence menyalakan kembali kekhawatiran tentang pemulihan ekonomi AS, sehingga menambah daya tarik dolar Amerika sebagai mata uang yang aman.
Data ini di bawah perkiraan para analis tersebut menambah pesimistis yang sudah ada di pasar finansial yang dipicu oleh earning kuartal yang mengecewakan dari beberapa perusahaan besar di antaranya Office Depot Inc. Hasil earning tersebut menekan saham-saham dan harga minyak dan berhasil menekan dolar Australia dari level tertingginya terhadap dolar Amerika sejak September silam. Yen pun tercatat rally karena investor melepas aset yang lebih berisiko.
Indeks dolar Amerika terhadap basket currencies naik 0,4 persen menjadi 78,964, sebelumnya turun ke level 78,315, terendah sejak Desember. Sementara Euro turun 0,7 persen di level USD1,4152, sebelumnya menguat ke level USD1,4303. Ini merupakan yang tertinggi sejak awal Juni.
Adapun dolar berada di bawah tekanan jual dalam minggu-minggu terakhir karena positifnya data ekonomi dan earning results dari korporasi yang memicu ekspektasi bahwa ekonomi global berada pada jalur recovery.
Sementara itu Presiden The Fed San Francisco Janet Yellen mengatakan, bahwa The Fed akan mengambil langkah yang tegas untuk mengetatkan kebijakan moneter dan menekan setiap prospek inflasi disaat yang tepat. Namun Yellen mengatakan bahwa tahap recovery ekonomi akan melambat sehingga inflasi masih akan telah rendah dan bangkitnya kembali kondisi yang full employment masih perlu waktu beberapa tahun.
Yellen menekankan kembali bahwa prospek The Fed tentang recovery ekonomi masih akan lambat dari resesi saat ini dan sangat mengagetkan bila data-data yang dirilis akhir-akhir ini positif.
(Rani Hardjanti)