JAKARTA - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) meminta departemen teknis dapat mengantisipasi dampak implementasi kerja sama perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) antara ASEAN dengan China (AC-FTA) yang akan berlaku mulai 2010 terhadap kinerja industri di dalam negeri.
Kerja sama ini diperkirakan semakin meningkatkan arus masuk produk-produk asal China yang dikhawatirkan akan mengurangi pangsa pasar produk lokal. "Dalam jangka pendek, akan ada suatu gelombang masuk komoditas industri yang sebetulnya homogen dengan industri kita,"kata Direktur Perencanaan Makro Bappenas Bambang Prijambodo di Jakarta kemarin.
Menurut Bambang, industri Indonesia belum siap dalam menghadapi persaingan dengan industri luar negeri.Persoalannya, dengan biaya produksi yang relatif lebih murah dan desain teknologi yang lebih modern, hal itu menjadi modal utama produk impor. Sebetulnya, kata dia, penerapan AC-FTA memberikan manfaat, terutama bagi konsumen yang banyak mendapatkan pilihan barang dan jasa dengan harga yang relatif murah.
"Hanya kalau tidak bisa memanfaatkan,kita hanya akan jadi market (barang dan jasa impor) mereka," ucapnya. Sementara itu,terkait negosiasi ulang implementasi liberalisasi perdagangan tersebut,seperti yang diinginkan kalangan dunia usaha, Bambang mengatakan,hal itu sulit dilakukan.
Untuk itu,dia berharap, sektor industri bisa meningkatkan daya saing supaya dapat mengantisipasi berbagai risiko, terutama kompetisi yang makin keras. Ketua Komite Tetap Perdagangan Kadin Indonesia Bambang Soesatyo menambahkan, industri domestik selalu dihadapkan pada problem kesiapan saat menghadapi kesepakatan perdagangan bebas lainnya." Persoalan kita adalah kesiapan menghadapi perdagangan bebas itu seperti halnya pada implementasi perdagangan bebas ini,"ujarnya.
(Candra Setya Santoso)