JAKARTA - Nilai tukar rupiah diproyeksikan tidak pengaruh secara signifikan dengan kasus gagal bayar Dubai World senilai USD59 miliar. Pasalnya, hubungan langsung antara negara Timur Tengah tersebut dengan Indonesia tidaklah besar.
"Dampaknya kecil, karena hubungan Indonesia ke Timur Tengah kecil. Sehingga dampaknya tidak langsung terasa," kata Kepala Ekonom Standard Chartered Fauzi Ichsan saat berbincang dengan okezone, Minggu (29/11/2009).
Akan tetapi, secara tidak langsung, dijelaskannya jika kedepannya situasi memburuk akibat Dubai World tidak melakukan restrukturiasi utang-utangnya tersebut, bukan tidak mungkin mata uang rupiah bakal ikut 'terguncang' juga, yakni mengikuti melemahnya pasar modal global. "Bukan hanya rupiah, tapi juga mata uang seluruh negara berkembang akan melemah," ucapnya.
Selain itu, ia mengungkapkan jika investor sebenarnya membutuhkan kepastian apakah gagal bayar yang terjadi pada Dubai World ini adalah yang yang pertama dan terakhir terjadi di debitur besar.
"Apakah ini awal dari krisis global jilid II, dimana kasus ini adalah yang pertama, dan selanjutnya akan ada lagi? Apakah minggu depan akan ada lagi debitur besar yang gagal bayar atau tidak. Jika itu yang terjadi maka pasar modal dunia akan terguncang, berdampak ke bursa global, bursa Asia termasuk IHSG akan melemah, begitu juga dengan rupiah," paparnya. (wdi)
(Rani Hardjanti)