JAKARTA - Pemerintah mengklaim pemberlakuan FTA Asean-China sebenarnya untuk melindungi industri dalam negeri, demi memperoleh bahan baku impor yang lebih murah agar mampu mendongkrak volume ekspor.
Demikian dikatakan Deputi Menko Perekonomian bidang Perindustrian dan Perdagangan Eddy Putra Irawadi, dalam diskusi Polemik Radio Trijaya bertajuk Ketika Produk China Menyerbu (Kesiapan Hadapi FTA-Asean China 2010), di Warung Daun, Jalan Cikini, Jakarta, Sabtu (19/12/2009)
"FTA itu sebenarnya untuk pengamanan dan investasi sendiri agar industri dapat bahan baku murah," ujarnya.
Menanggapi usulan untuk penundaan penandatanganan FTA Asean-China dikatakannya bahwa saat ini pihaknya sedang melakukan kajian untuk menunda realisasi kebijakan FTA untuk 303 sektor.
"Setelah tanggal 30 Desember tidak akan ada lagi penambahan dan akan kita serahkan ke Mendag. Untuk kemudian nanti akan dibawa ke Asean Konsorsium pada tanggal 2 Januari," pungkasnya.
Sebelumnya, pelaku industri dalam negeri mengkhawatirkan perjanjian tersebut akan mematikan usaha pengusaha domestik. Produksi China membuat produk dalam negeri kalah saing, karena harganya yang murah dengan variasi produk yang beragam.
"Negara kita yang enggak siap menghadapi negara China, bukan cuma antara pengusaha tekstil saja," ujar Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ernovian C Ismy, di tempat yang sama.
(Rani Hardjanti)