JAKARTA - Aksi beli dolar sejumlah korporasi menjelang akhir tahun diperkirakan masih akan terjadi. Akibatnya, nilai tukar rupiah pada perdagangan awal pekan ini, diproyeksikan masih akan mengalami pelemahan.
Menurut Ketua Currency Management Board Farial Anwar, nilai tukar rupiah berpotensi mengalami pelemahan hingga menembus level Rp9.500 lebih dalam lagi dari sebelumnya. "Saya melihat rupiah akan berada dalam kisaran Rp9.475-9.550 per USD," katanya saat berbincang dengan okezone di Jakarta, Senin (28/12/2009).
Dia menuturkan, korporasi yang membeli dolar tersebut umumnya untuk membayar utang valas yang dimilikinya. Akan tetapi, menurutnya selain itu banyak juga aksi rekayasa dari pengusaha untuk melarikan dananya ke luar negeri. "Banyak pembelian dolar yang terjadi," ucapnya.
Farial melanjutkan, nilai tukar rupiah juga tidak akan beranjak jauh dari Rp9.500 per USD. Pasalnya, jika Bank Indonesia (BI) akan menjaga agar rupiah berada di kisaran tersebut hingga akhir tahun.
Sebelumnya, rupiah pada perdagangan akhir pekan lalu, Rabu (23/11/2009), ditutup melemah ke posisi Rp9.505 per USD dibanding perdagangan sebelumnya di level Rp9473,5 per USD.
Rupiah melemah menyusul kebutuhan korporasi akan dolar Amerika. Di mana banyak perusahaan menyelesaikan kebutuhan pembayaran berdenominasi dolar sebelum akhir tahun, di mana sudah banyak hari libur Natal dan Tahun Baru.
Seperti dikutip dari Valbury Securities, Dolar kembali menguat beriringan dengan kenaikan bursa saham dan imbal hasil obligasi pemerintah AS, dolar bahkan menguat 0,7 persen atau mencetak level tertinggi sepanjang dua bulan terakhir terhadap yen terdorong membaiknya penjualan existing home sales.
Terhadap euro, dolar naik ke level tertinggi sepanjang 3,5 bulan terakhir di mana euro awal bulan ini tertekan menyusul downgrade peringkat utang Yunani dari dua lembaga pemeringkat ternama dunia menyusul krisis fiskal yang melanda negeri tersebut.
(Rani Hardjanti)